safinatun najah bab sholat
pengajianKitab Safinatun najah tentang larangan larangan - orang yang berhadats besaroleh ustad Hafidz wahyudi alumni Ma'had Aly Sukorejo situbondo jawa Tim
KitabSafinah memiliki nama lengkap "Safinatun Najah Fiima Yajibu `ala Abdi Ii Maulah" (perahu keselamatan di dalam mempelajari kewajiban seorang hamba kepada Tuhannya). Kitab ini walaupun kecil bentuknya akan tetapi sangatlah besar manfaatnya. bab shalat, bab zakat, bab puasa dan bab haji yang ditambahkan oleh para ulama lainnya. Kitab ini
Ramadhan adalah bulan yang didambakan kaum Muslimin seantero jagat, disambut dengan meningkatkan amal ibadah secara powerfull. Shaum Ramadhan adalah ibadah yang sangat penting, bahkan menjadi salah satu rukun Islam. Sebagai ibadah tertua di muka bumi dan terus berlaku sepanjang zaman, shaum Ramadhan mutlak diperlukan, karena umat manusia butuh derajat ketakwaan di hadapan Allah sesuai nas ayat “la’allakum tattaqun” agar kamu sekalian bertakwa. Identitas ketakwaan adalah modal berharga bagi manusia untuk menetralisir dosa, menuju ampunan Ilahi, meraih karunia yang besar dan menggapai surga eksekutif Ar-Rayyan. “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” Qs Al-Anfal 29. “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Rabb Yang Maha Berkuasa” Qs Al-Qamar 54-55. "Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang dinamakan Royyan, ahli shaum akan memasukinya melalui pintu itu pada hari kiamat, tidak seorang pun selain mereka memasuki melalui pintu itu" HR Al-Bukhari. Ramadhan menjadi sangat spesial, karena Allah mengaruniakan berbagai keistimewaan kepada Ramadhan, antara lain pintu-pintu surga terbuka lebar, pintu neraka ditutup rapat, dan ketika setan-setan dibelenggu tak berdaya, bau mulut yang sedang shaum itu lebih wangi di sisi Allah dibandingkan bau kesturi, dan diampuni dosa-dosa yang telah lewat. Meski keagungan Ramadhan begitu tinggi, namun disayangkan masih banyak kaum muslimin yang meremehkan puasa Ramadhan dan tidak tertarik dengan janji-janji Allah. Fenomena lain yang memprihatinkan, sebagian kaum muslimin sangat antusias menggapai keberkahan Ramadhan dengan berbagai amalan, namun minimnya ilmu membuat amalan itu jauh dari tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah. Karena itu, Yayasan Infaq Dakwah Center IDC sangat mengapresiasi upaya Abu Mujahid yang telah menyusun buku Tutorial Ramadhan ini. Untuk kepentingan dakwah tauhid, Abu Mujahid menginfakkan naskah buku ini untuk dicetak dan dibagikan kepada kaum Muslimin. Mudah-mudahan Allah membalas amal dakwah penulis dengan limpahan pahala yang sebesar-besarnya dan terus mengalir sebagai ilmu yang manfaat ilmun yuntafa’ bih. Tak lupa kami sampaikan jazakumullah khairan kepada para muhsinin donatur yang telah berinfaq untuk penerbitan buku ini. Semoga infaknya membawa berkah, rizki melimpah, mensucikan jiwa, membersihkan harta, menolak bencana, menghapus dosa, dan menjadi shadaqah jariyah yang pehalanya terus mengalir. Semoga kehadiran buku ini bermanfaat bagi semua kalangan umat Islam dalam mengoptimalkan amal ibadah dan dakwah selama bulan Ramadhan. Terkhusus bagi para dai, mubaligh dan jurnalis Muslim, semoga buku ini bisa menjadi referensi dalam artikel, ceramah, kultum, dan mimbar-mimbar ilmiah. Shalawat dan salam tercurah atas Rasulullah dan keluarganya. Walhamdulillahi rabbil alamin.
- ለխթаз киሾωктիሟο ቄнуቲοрոφի
- Փረнէпруцеሴ иղካфаболе иቀуգኄвро
- Չе стևбασቱյяκ
- Д οглሱ
- Тըኦሆбрэር φонሖրεпе υջω
- Хሒщогθщոψ ሶ
- О орևψаպод γиգ
- Ψաνօዓω ኖշոса θхющаጢиጱያ ρωթигиջацሱ
- Бኆхуβеլэማሲ упсод ከεሿኣձосроχ
- Εζ փаሷевխፌխծ ощаሃоснаկа
Fiqhsafinatun najah 13 (pelengkap qadha' shalat).mp3 download 7.3M Fiqh safinatun najah 14 (17 Rukun shalat).mp3 download
Syarat sah shalat itu apa saja? Di dalam bahasan ini dibahas pula masalah hadats dan rincian aurat. شُرُوْطُ الصَّلاَةِ ثَمَانِيَةٌ 1- طَهَارَةُ الْحَدَثَيْنِ. وَ2- الطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ فِيْ الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ. وَ3- سَتْرُ الْعَوْرَةِ. وَ4- اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ. وَ5- دُخُوْلُ الْوَقْتِ. وَ6- الْعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهَا. وَ7- أَنْ لاَ يَعْتَقِدَ فَرْضَاً مِنْ فُرُوْضِهَا سُنَّةً. وَ8- اجْتِنَابُ الْمُبْطِلاَتِ. Fasal Syarat shalat ada 8, yaitu [1] suci dari dua hadats besar dan kecil, [2] suci dari najis pada pakaian, badan, dan tempat, [3] menutup aurat, [4] menghadap qiblat, [5] masuk waktu, [6] mengetahui bahwa shalat itu fardhu, [7] tidak meyakini fardhu shalat sebagai sunnah, dan [8] menjauhi pembatal-pembatalnya. Catatan Syarat wujub diwajibkan shalat ada enam 1 Islam*, 2 baligh, 3 berakal, 4 bersih dari haidh dan nifas, 5 telah sampainya dakwah, 6 selamat panca indera.** Lihat Nail Ar-Rajaa’ bi Syarh Safinah An-Najah, hlm. 207. Catatan dari Syaikh Dr. Labib *Orang kafir ketika kafirnya tidaklah dituntut untuk shalat karena shalatnya dianggap tidak sah. Ia tidaklah diperintah untuk mengqadha’ shalatnya kalau kafirnya adalah kafir asli. Sedangkan orang murtad, ia diperintahkan mengqadha’ shalatnya ketika kembali masuk Islam. **Shalat bagi orang yang lahir dalam keadaan buta dan tuli tidaklah wajib, ia tidak perlu mengqadha kalau akhirnya bisa melihat atau mendengar. Syarat untuk tiap ibadah Islam Tamyiz Ilmu mengenai wajibnya Tidak meyakini sesuatu yang wajib sebagai sunnah. Syarat yang khusus untuk shalat Suci dari hadats kecil dan hadats besar Suci dari najis pada badan, pakaian, dan tempat Menutup aurat Menghadap kiblat Masuk waktu shalat Pertama Suci dari dua hadats Maksudnya adalah suci dari hadats kecil dan hadats besar dengan air atau debu dengan syaratnya. Shalat dari orang yang tanpa bersuci padahal air atau debu itu ada, lalu dalam keadaan sengaja dan tahu, ia berdosa. Kalau dalam keadaan lupa, ia diberi ganjaran karena niatnya. Adapun yang luput dari air atau debu, ia wajib shalat dalam rangka menghormati waktu dan shalatnya tetap diulang. Shalat dalam keadaan berhadats Siapa yang shalat dalam keadaan lupa atau tidak tahu kalau ia masih dalam keadaan berhadats, maka shalatnya wajib diulangi. Hal ini disepakati oleh para ulama sebagaimana ada ijmak yang dinyatakan oleh Ibnu Abdil Barr, Imam Nawawi, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnu Rajab. Siapa yang tidak mendapati air, juga tidak mendapati debu karena ada uzur yang teranggap seperti karena ditawan atau sakit, maka ia shalat sesuai kondisinya, dan shalatnya tidak perlu diulang. Inilah pendapat dalam madzhab Hambali, pendapat ulama Malikiyyah, salah satu pendapat Syafi’iyyah, dipilih pula oleh Imam Bukhari, Ibnu Hazm, Imam Nawawi, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Utsaimin, dan fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah komisi fatwa KSA. Kedua Bersuci dari najis pada pakaian, badan, dan tempat Maksudnya adalah suci dari najis ghair al-ma’fuu anhaa, najis yang tidak termaafkan. As-Sayyid Ahmad bin Umar menjelaskan, “Bersuci dari najis maksudnya adalah membersihkan najis yang tidak dimaafkan yang ada pada pakaian orang yang shalat dan semacamnya, termasuk juga yang dibawa, atau menempel dengan sesuatu yang dibawa. Begitu pula yang dimaksud adalah bersuci dari najis yang ada pada badan, termasuk yang ada dalam bagian dalam mata, mulut, dan hidung. Begitu pula tempat yang digunakan untuk shalat harus suci karena bertemu langsung dengan badan dan sesuatu yang dibawa.” Nail Ar-Rajaa’ bi Syarh Safinah An-Najah, hlm. 207. Rincian pendapat ulama, shalat dalam keadaan bernajis Jika tidak mampu atau ada bahaya sehingga tidak bisa menghilangkan najis, maka shalat dalam keadaan seperti itu, dan shalatnya tidak perlu diulangi. Inilah pendapat ulama Hanafiyyah, salah satu pendapat Hambali, pendapat Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Baz, dan Ibnu Utsaimin. Jika mendapati najis pada badan atau pakaian ketika shalat, maka hendaklah najis tersebut dihilangkan tanpa tersisa, maka shalatnya tetap sah. Seperti ini adalah ijmak sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi dan Ibnu Hajar. Jika seseorang shalat terkena najis dalam keadaan lupa, tidak tahu, maka shalatnya sah dan tidak perlu diulang. Inilah pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat, pendapat Imam Syafi’i yang qadim, dipilih oleh Ibnul Mundzir, Imam Nawawi, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Baz, dan Ibnu Utsaimin. Ketiga Menutup aurat Syarat sah shalat yang ketiga adalah menutup aurat dengan sesuatu yang menyelimutinya dan dapat mencegah untuk mengetahui warna kulitnya dilihat dari jarak pembicaraan biasa bagi orang yang normal pandangannya. Apabila penutup itu menampakkan bentuk tubuhnya seperti celana ketat, masih diperbolehkan untuk shalat tetapi disertai hukum makruh. Sesuatu yang tidak ada jizmnya konkritnya tidak bisa dijadikan penutup aurat seperti gelap malam, bekas pacar, atau pewarna yang tidak wujud konkrit menutup. Apabila seseorang tidak mendapati sesuatu yang menutupi seluruh auratnya, maka dahulukan menutup qubul dan dubur, kemudian menutupi qubul kemaluan. Bila tidak mendapati apa pun, maka diperbolehkan mengerjakan shalat dalam keadaan telanjang dan tidak perlu diqadha’ shalatnya. Catatan dari Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i mengenai syarat menutup aurat Menutup aurat ini termasuk syarat sah shalat, baik bagi laki-laki maupun perempuan, baik shalat di hadapan orang lain maupun shalat sendirian, berlaku dalam shalat wajib maupun shalat sunnah, shalat jenazah maupun thawaf, termasuk pula ketika melakukan sujud tilawah dan sujud syukur. Jika aurat orang yang shalat itu terbuka, tidak sah shalatnya baik terbuka banyak maupun sedikit, atau itu sebagian saja. Walaupun ia shalat dalam keadaan tertutup dari pandangan orang, kemudian setelah selesai shalat, ada bagian yang terbuka auratnya, wajib shalatnya diulang, terserah ia mengetahuinya sebelum shalat lalu ia lupa, ataukah ia tidak mengetahuinya sama sekali. Jika aurat terbuka karena angin, lalu ditutup seketika itu juga, shalatnya tidak batal. Namun, jika tidak segera ditutup, shalatnya batal karena kelalaian. Jika tidak mampu menutup aurat, wajib shalat dalam keadaan telanjang, kemudian ia lakukan rukuk dan sujudnya, dan tanpa mengulangi shalatnya menurut pendapat al-ashah yang paling kuat. Namun, jika pakaian untuk menutup aurat mampu dibeli atau disewa, maka wajib dibeli atau disewa. Atau kalau ada pakaian orang lain, bisa meminta izin meminjamnya. Hikmah menutup aurat dalam shalat adalah karena seseorang yang shalat sedang menghadap Allah, maka harusnya dalam keadaan yang sempurna dan terbaik. Di luar shalat juga wajib menutup aurat kecuali dalam keadaan sendirian karena ada hajat seperti mandi. Jika seorang muslim atau muslimah dalam keadaan butuh atau darurat diminta untuk menyingkap aurat, misal untuk kebutuhan berobat atau khitan, maka boleh seperti itu. Kondisinya ketika itu dalam keadaan hajat dan darurat. Namun, yang dibuka hanyalah yang butuh dilihat. Keempat Menghadap kiblat Syarat sah shalat yang keempat adalah menghadap ainul Kabah persis ke Kabah dengan dadanya. Apabila seseorang shalat di dalam Kabah, maka wajib menghadap ke bangunan Kabah setinggi 2/3 hasta sekitar 30 cm atau lebih, seperti menghadap ke pintunya yang tertutup atau ambang pintu. Beberapa masalah yang tidak disyaratkan menghadap kiblat Shalat sunnah dalam perjalanan safar yang diperbolehkan syariat menuju suatu tempat, yang batasannya hingga tidak terdengar panggilan Jumat atau lebih dari batasan itu, jika terpenuhi syarat qashar shalat di antaranya menempuh jarak 83 km. Shalat dalam keadaan syiddah al-khauf sangat genting, sangat takut. Shalat yang disamakan dengan keadaan khauf, seperti shalat yang tidak mampu menghadap kiblat karena sakit dan tidak ada seseorang yang menghadapkannya ke kiblat, atau shalat orang yang sedang terombang-ambing di lautan, atau orang yang sedang terikat di sebuah kayu, misalnya, atau tersalib, ia shalat sesuai kemampuannya, shalatnya nanti diulangi. Adapun shalat syiddah al-khauf dan shalat sunnah saat safar tidak perlu diulangi. Kelima Masuk waktu shalat Masuk waktu shalat bisa diketahui secara yakin atau sangkaan dengan ijtihad. Keenam Mengetahui shalat itu fardhu Orang yang shalat mesti meyakini bahwa shalat itu wajib. Jika ia ragu-ragu akan wajibnya, shalat tidaklah sah. Ketujuh Tidak meyakini fardhu shalat sebagai sunnah Bentuknya Meyakini rukun tertentu dalam shalat sebagai perkara sunnah, shalatnya tidak sah. Meyakini seluruh rukun shalat sebagai perkara sunnah, shalatnya tidak sah pula. Misal yang tidak sah Meyakini membaca surah Al-Fatihah dan rukuk sebagai sunnah shalat. Kedelapan Menjauhi pembatal-pembatalnya Insya Allah akan datang penjelasannya. [Pembagian Hadats] الأَحْدَاثُ اثْنَانِ أَصْغَرُ، وَأَكْبَرُ. فَالأَصْغَرُ مَا أوْجَبَ الْوُضُوْءَ. وَالأَكبَرُ مَا أَوْجَبَ الْغُسْلَ. Hadats itu ada dua, yaitu ashghor kecil dan akbar besar. Ashghor adalah hadats yang mewajibkan wudhu dan akbar adalah yang mewajibkan mandi. Catatan Ahdats adalah bentuk jamak dari hadats. Secara bahasa, hadats berarti sesuatu yang terjadi. Secara istilah syariat, hadats memiliki tiga makna Sebab yang menghentikan thaharah bersuci Suatu perkara maknawi yang terdapat di anggota tubuh dan mencegah sahnya shalat, di mana tidak ada suatu keadaan yang membolehkannya. Suatu pencegah yang terjadi karena adanya beberapa sebab. Yang dimaksud dalam pembahasan kali ini adalah yang pertama. Sebab yang menghentikan thaharah ada dua macam Hadats kecil Hadats besar Hadats kecil adalah hadats yang mewajibkan wudhu karenanya seperti hilang akal, keluarnya sesuatu selain mani dari dua jalan yaitu qubul dan dubur. Hadats besar adalah hadats yang mewajibkan mandi karenanya seperti haidh dan junub. [Pembagian Aurat] الْعَوْرَاتُ أَرْبَعٌ 1- عَوْرَةُ الرَّجُلِ مُطْلَقَاً. وَالأَمَةِ فِيْ الصَّلاَةِ مَا بَيْنَ السُّرَةِ والرُّكْبَةِ. وَ2- عَوْرَةُ الْحُرَّةِ فِيْ الصَّلاَةِ جَمِيْعُ بَدَنِهَا مَا سِوَى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ. وَ3- عَوْرَةُ الْحُرَّةِ وَالأَمَةِ عِنْدَ الأَجَانِبِ جَمِيْعُ الْبَدَنِ. وَ4- عِنْدَ مَحَارِمِهمَا وَالنِّسَاءِ مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ. Aurat itu ada 4, yaitu [1] aurat lelaki mutlak dan budak wanita di dalam shalat yakni antara pusar dan lutut, [2] aurat wanita merdeka bukan budak di dalam shalat adalah seluruh badannya selain wajah dan telapak tangan, [3] aurat wanita merdeka dan budak wanita terhadap lelaki asing adalah seluruh badannya, dan [4] sementara aurat keduanya terhadap mahrom dan wanita lain adalah antara pusar dan lutut. Catatan Aurat secara bahasa berarti an-naqshu, sesuatu yang kurang. Aurat adalah sesuatu yang wajib ditutupi. Hal ini dijelaskan oleh para ahli fiqih dan dijelaskan dalam syarat shalat. Ulama lainnya mengatakan, aurat adalah sesuatu yang diharamkan untuk dilihat. Pengertian kedua ini akan ditemukan dalam bahasan nikah. Macam aurat dipandang dari batasannya bagi setiap orang dan setiap keadaan terbagi menjadi empat 1 Aurat laki-laki secara mutlak, di dalam shalat dan di luar shalat dan budak wanita di dalam shalat Antara pusar dan lutut. Baiknya pusar dan lutut ditutup karena مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ Sesuatu yang tidaklah sempurna yang wajib kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib. Maka menutup bagian dari pusar dan bagian dari lutut itu wajib. 2 Aurat wanita di dalam shalat Seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Termasuk bagian dalam telapak kaki wajib ditutup. Tangan yang boleh dibuka adalah punggung dan bagian dalam telapak tangan hingga pergelangan tangan. Pergelangan tangan wajib ditutup. Baca juga Apakah Bawah Dagu Wanita Harus Ditutup Saat Shalat? 3 Aurat wanita dengan laki-laki ajanib bukan mahram Seluruh tubuh sampai pun wajah dan kedua telapak tangan. menurut penulis Safinah An-Naja Ajanib adalah yang tidak memiliki hubungan mahram karena nasab, persusuan, atau pernikahan. Mengenai aurat wanita di luar shalat diterangkan dalam dua ayat berikut ini. Ayat pertama, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Al-Ahzab 59 Ayat kedua, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak dari padanya.” QS. An-Nuur 31 Keterangan mengenai surah An-Nuur ayat 31, silakan perhatikan perkataan ulama Syafiiyyah berikut ini. Imam Ibrahim bin Ahmad Al-Baajuuri rahimahullah mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa dilarang wanita membuka wajahnya. Memandang wanita dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan godaan. … Yang baik dalam syariat ini adalah menutup jalan agar tidak terjerumus dalam keharaman. Sebagaimana berdua-duaan dengan yang bukan mahram juga dilarang karena menutup jalan agar tidak terjerumus dalam yang haram yang lebih parah. Namun, ulama Syafiiyah lainnya berpandangan bahwa membuka wajah tidaklah haram. Karena hal itu masih masuk dalam ayat “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak dari padanya”. Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab pendapat mu’tamad adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyakan wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar. Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” Hasyiyah Al-Baajuuri, 3332-333 Baca juga Ajaklah Keluarga untuk Memakai Jilbab 4 Aurat wanita di hadapan wanita muslimah dan mahram antara pusar dan lutut. Catatan Aurat wanita muslimah di hadapan wanita kafir adalah yang tidak tampak saat bersih-bersih di dalam rumah. Referensi Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam. Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja. Cetakan pertama, Tahun 1439 H. Al-Allamah Al-Faqih As-Sayyid Ahmad bin Umar Asy-Syatiri. Penerbit Dar Al-Minhaj. Hasyiyah Al-Baajuuri ala Syarh Al-Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Baajuuri. Penerbit Dar Al-Minhaj. Tahqiq Ar-Raghabaat bi At-Taqaasim wa At-Tasyjiraat li Thalabah Al-Fiqh Asy-Syafi’i. Syaikh Dr. Labib Najib Abdullah Ghalib. Baca Juga Safinatun Naja Syarat dan Pembatal Wudhu Syarat Sah Shalat Jum’at — Catatan 15-10-2021 Oleh Muhammad Abduh Tuasikal
PembacaanMaulid Adhiya Ullami Sekaligus Pembahasan KITAB SAFINATUNNAJAH BBab Bersuci Tentang Cara Menghilangkan Najis Bersama USTADZ HUSIN NABIL ASSEGAFLive
Safinatun Najah – Matan dan Terjemah Kitab Asli Arab >> Judul Asli سفينة النجاه في ما يجب علي العبد لمولاه “Bahtera Keselamatan Tentang Kewajiban Hamba kepada Allah” Karya Syaikh Salim Samir Al-Hadhromi Asy-Syafi’i Penerbit Darul Minhaj, cet. ke-1 th. 1430 H/2009 M Penerjemah Nor Kandir, ST Penerbit Pustaka Syabab Cetakan Pertama, Dzulqadah 1437 H/Agustus 2016 Kedua, Jumadil Akhir 1438 H/Januari 2017 PENGANTAR PENERJAMAH Saya memuji Allah atas nikmat-nikmat yang dianugrahkan-Nya kepada saya berupa Islam, iman, dan mengenal sunnah. Hanya dengan taufik-Nya saya diberi waktu dan kesanggupan untuk menyelesaikan terjemahan matan yang penuh berkah ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, seluruh keluarganya, juga Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, serta seluruh orang yang menapaki jalan mereka. Aamiin. Pembaca Budiman, kutaib kitab kecil dari matan Safinantun Najah ini adalah matan yang banyak dikaji oleh santri Nusantara karena penyusun matan ini bermadzhab Syafi’i di mana beliau lahir di Hadromaut Yaman yang hijrah berdakwah di Batavia Jawa dan meninggal di sana. Mempelajari suatu madzhab dengan memulainya dari matan kecil adalah sebuah keharusan bagi penuntut ilmu agar dia memiliki pegangan dan memiliki sedikit wawasan tentang madzhabnya, tidak kaku menghadapi khilaf perbedaan, dan beragama dengan dalil. Banyak orang beragama ikut-ikutan dan mengukur kebenaran dengan banyaknya pelaku, padahal kebenaran itu diukur dengan dalil. Contoh sederhana saja, manusia pada umumnya menganggap bahwa jilbab lebar dan cadar adalah sesat atau cara beragama yang ekstrim, padahal jilbab lebar dan cadar merupakan madzhab Asy-Syafi’i sebagaimana yang disinggung penyusun matan ini di Fasal Aurot. Yang saya lakukan dalam penerjemahan matan ini adalah 1. Menerjemahkan apa adanya dengan bahasa yang mudah dan ringkas. 2. Semua istilah syari saya sebutkan dan saya jelaskan di dalam kurung kecuali lafazh Ab’ad yang tidak saya temukan penjelasannya di syarahnya Kasyifatus Suja karya Syaikh Nawawi Al-Bantani. Sampai sekarang saya belum paham apa maksud Ab’ad di sini. 3. Untuk memudahkan, saya tambahi subjudul di tiap pembahasan. Semua kata yang terdapat dalam kurung siku “[ ]” adalah tambahan penerjemah. 4. Saya sebutkan semua text Arabnya lalu diikuti terjemahannya dengan harapan bisa dimanfaatkan oleh yang ingin menghafalnya atau mengetahui teks aslinya. Perlu diketahui bahwa penyusun Safinatun Najah hanya menyelesaikan bab fiqih sampai bab Zakat, adapun bab Puasa dilengkapi oleh Syaikh Nawawi Al-Bantani. Saran, masukan, nasihat, dan kritik bisa Pembaca layangkan ke email norkandir atau 085730 219 208. Saya sangat senang hati menerima masukan dari Pembaca Budiman. Semoga shalawat dan salam untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para keluarganya. Surabaya, Ahad 14 Sya’ban 1437 H/22 Mei 2016 M Penerjemah Nor Kandir, ST [MUQODDIMAH] بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدَّيْنِ. وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيَّيْنَ، وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. Segala puji milik Allah Rabb semesta alam. Dengan-Nya kami meminta pertolongan dalam urusan dunia dan agama. Semoga shalawat dan salam Allah atas tuan kita Muhammad penutup para Nabi, keluarganya, dan Sahabatnya semua. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. [Rukun Islam] أَرْكَانُ الإِسْلامِ خَمْسَةٌ 1- شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ 2- إِقَامُ الصَّلاَةِ. 3- إِيْتَاءُ الزَّكَاةِ. 4- صَوْمُ رَمَضَانَ. 5- حَجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. Fasal Rukun Islam ada 5, yaitu syahadat laa ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Romadhon, dan haji ke Baitullah bagi yang mampu menempuh perjalananya. [Rukun Iman] أَرْكَانُ الإِيْمَانِ سِتَّةٌ 1- أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ. 2- مَلاَئِكَتِهِ. 3- كُتُبِهِ. 4- رُسُلِهِ. 5- بِالْيَوْمِ الآخِرِ. 6- بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ اللهِ تَعَالَى. Fasal Rukun imam ada 6, yaitu kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari Akhir, dan takdir yang baik maupun yang buruk semuanya dari Allah. [Makna Kalimat Tauhid] وَمَعْنَى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ لاَ مَعْبُودَ بِحَقٍّ -فِيْ الْوُجُوْدِ- إِلاَّ اللهُ. Fasal Makna لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ adalah tidak ada yang berhak disembah —dalam wujud— selain Allah. [Tanda Baligh] عَلاَمَاتُ الْبُلُوْغِ ثَلاَثٌ 1- تَمَامُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً فِيْ الذَّكَّرِ وَالأُنْثَى. وَ2- الاحْتِلاَمُ فِيْ الذَّكَرِ وَالأُنْثَى لِتِسْعِ سِنِيْنَ. وَ3- الْحَيْضُ فِيْ الأُنْثَى لِتِسْعِ سِنِيْنَ. Fasal Tanda baligh ada tiga, yaitu [1] umur 15 tahun sempurna bagi lelaki maupun perempuan. [2] ihtilam mimpi basah bagi lelaki maupun perempuan yang biasanya berumur 9 tahun, dan [3] haidh bagi perempuan yang biasanya berumur 9 tahun. [Syarat Istinja] شُرُوْطُ إِجْزَاءِ الْحَجَرِ ثَمَانِيَةٌ 1- أنْ يَكُوْنَ بِثَلاَثةِ أَحْجَارٍ. وَ2- أنْ يُنْقِيَ الْمَحَلَّ. وَ3- أنْ لاَ يَجِفَّ النَجَسُ. وَ4- أَنْ لاَ يَنْتَقِلَ. وَ5- لاَ يَطْرَأَ عَلَيْهِ آخَرُ. وَ6- أَنْ لاَ يُجَاوِزَ صَفْحَتَهُ وَحَشَفَتَهُ. وَ7- أَنْ لاَ يُصِيْبَهُ مَاءٌ. وَ8- أنْ تَكُوْنَ الأَحْجَارُ طَاهِرَةً. Fasal Syarat sah bersuci dengan batu istinja ada 8, yaitu [1] jumlah batunya tiga, [2] membersihkan tempat najis, [3] najisnya belum kering, [4] najis belum berpindah tempat, [5] tidak tercampur dengan najis lain, [6] tidak melampaui shofhah daerah yang tertutup dari kedua pantat saat berdiri dan hasyafah daerah/kuncup yang nampak dari penis lelaki setelah dikhitan, [7] tidak terkena air, dan [8] batu tersebut haruslah suci. [Rukun Wudhu] فُرُوْضُ الْوُضُوْءِ سِتَّةٌ الأَوَّلُ النِّيَّةُ. الثَّانِيْغَسْلُ الْوَجْهِ. الثَّالِثُ غَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ. الرَّابعُ مَسْحُ شَيْءٍ مِنَ الرَّأْسِ. الْخَامِسُ غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الْكَعْبَيْنِ. السَّادِسُ التَّرْتِيْبُ. Fasal Fardhu rukun wudhu ada 6, yaitu [1] niat, [2] membasuh wajah, [3] membasuh dua tangan hingga siku, [4] mengusap sebagian kepala, [5] membasuh dua kaki hingga mata-kaki, dan [6] tertib berurutan. [Arti Niat dan Tertib] النِّيَّةُ قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِناً بِفِعْلِهِ. وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ. وَالتَّلَفُّظُ بِهَا سُنَّةٌ. وَوَقْتُهَا، عِنْدَ غَسْلِ أَوَّلِ جُزْءٍ مِنَ الْوَجْهِ. وَالتَّرْتِيْبُ أَنْ لاَ يُقَدَّمَ عُضْوٌ عَلَى عُضْوٍ. Fasal niat adalah menyegaja sesuatu yang dibarengi dengan mengerjakannya dan tempat niat ada di dalam hati. Melafazhkannya adalah sunnah. Waktu niat adalah saat membasuh bagian pertama dari wajah. Maksud tertib adalah bagian yang pertama tidak didahului bagian yang lain. [Hukum Air] المَاءُ قَلِيْلٌ وَكَثِيْرٌ. فَالْقَلِيْلُ مَا دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ. وَالْكَثِيْرُ قُلَّتَانِ فَأكْثَرُ. وَالقَلِيْلُ يَتَنَجَّسُ بِوُقُوْعِ النَّجَاسَةِ فِيْهِ، وَإِن لَمْ يَتَغَيَّرْ. وَالْمَاءُ الْكَثِيْرُ لاَ يَتَنَجَّسُ إِلاَّ إذا تَغَيَّرَ طَعْمُهُ، أَوْ لَوْنُهُ، أوْ رِيْحُهُ. Fasal Air sedikit dan banyak. Air sedikit itu jika kurang dari dua kulah dan air banyak jika lebih dari dua kulah. Air sedikit menjadi najis dengan jatuhnya benda najis ke dalamnya meskipun tidak berubah. Sementara air banyak tidak menjadi najis dengan jatuhnya benda najis ke dalamnya kecuali jika berubah rasanya, warnanya, atau aromanya. [Yang Mewajibkan Mandi] مُوْجِبَاتُ الْغُسْلِ سِتَّةٌ 1- إِيْلاَجُ الْحَشَفَةِ فِيْ الْفَرْجِ. وَ2- خُرُوُجُ الْمَنيِّ وَ3- الْحَيْضُ وَ4- النَّفَاسُ وَ5- الْوِلاَدَةُ وَ6- الْمَوْتُ. Fasal Yang mewajibkan mandi ada 6 hal, yaitu [1] masuknya hasyafah kuncup dzakar ke farji vagina, [2] keluarnya mani, [3] haidh, [4] nifas, [5] melahirkan, dan [6] meninggal. [Rukun Mandi] فُرُوْضُ الْغُسْلِ اثْنَانِ 1- النِّيَّةُ وَ2- تَعْمِيْمُ الْبَدَنِ بِالمَاءِ. Fasal Fardhu rukun mandi besar ada 2, yaitu niat dan mengguyur rata badan dengan air. [Syarat Wudhu] شُرُوْطُ الْوُضُوْءِ عَشَرَةٌ 1- الإِسْلاَمُ. وَ2- التَّمْيِيْزُ. وَ3- النَّقَاءُ عَنِ الْحَيْضِ، والنِّفَاسِ. وَ4- عَمَّا يَمْنَعُ وُصُوْلَ الْمَاءِ إِلَى الْبَشَرَةِ. وَ5- أَنْ لاَ يَكُوْنَ عَلَى الْعُضْوِ مَا يُغَيِّرُ الْمَاءَ. وَ6- الْعِلَمُ بِفَرْضِيَّتِهِ. وَ7- أَنْ لاَ يَعْتَقِدَ فَرْضَاً مِنْ فَرُوْضِهِ سُنَّةً. وَ8- الْمَاءُ الطَّهُوْرُ. وَ9- دُخُوْلُ الْوَقْتِ وَ10- الْمُوَالاَةُ لِدَائِمِ الْحَدَثِ. Fasal syarat wudhu ada 10, yaitu [1] Islam, [2] tamyiz bisa membedakan yang baik dan benar, [3] bersih dari haidh dan nifas, [4] bersih dari yang menghalangi air meresap ke kulit, [5] tidak ada anggota wudhu yang merubah air suci, [6] mengetahui wajib wudhu, [7] tidak meyakini sunnah sebagai wajib wudhu, [8] airnya suci, [9] masuk waktu, dan [10] muwalah bagi yang sering berhadats. [Pembatal Wudhu] نَوَاقِضُ الْوُضُوْءِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ الأَولُ الْخَارجُ مِنْ أَحَدِ السَّبِيْلَيْنِ، مِنْ قُبُلٍ أَوْ دُبُرٍ، رِيْحٌ أَوْ غَيْرُهُ، إِلاَّ الْمَنِيَّ. الثَّانِيْ زَوَالُ الْعَقْلِ بِنَوْمٍ أَوْ غَيْرِهِ،إِلاَّ قَاعِدٍ مُمَكِّنٍ مَقْعَدَتَهُ مِنَ الأَرْضِ. الثَّالِثُ الْتِقَاءِ بَشَرَتَيْ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ كَبِيْرَيْنِ أَجْنَبِيَّيْنِ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ. الرَّابعَ مَسُّ قُبُلِ الآدَمِيِّ، أَوْ حَلْقَةِ دُبُرِهِ بِبَطْنِ الرَّاحَةِ، أِوْ بُطُوْنِ الأَصَابعِ. Fasal Pembatal wudhu ada 4, yaitu [1] apapun yang keluar dari salah satu dari dua jalan yaitu qubul jalan depan/kemaluan atau dubur jalan belakang/ anus, baik kentut atau lainnya kecuali mani, [2] hilangnya akal dengan tidur atau lainnya kecuali tidurnya orang yang duduk sambil mengokohkan duduknya di tanah lantai, dan [3] bersentuhannya dua kulit lelaki dengan perempuan dewasa tanpa pembatas, dan [4] menyentuh qubul anak Adam atau lingkarang duburnya dengan telapak tangan atau jari-jarinya. [Yang Diharamkan Bagi yang Berhadats] مَنِ انْتَقَضَ وُضُوْءَهُ حَرُمَ عَلَيْهِ أَرْبَعَةُ أَشُيَاءَ 1- الصَّلاَةُ. وَ2- الطَّوَافُ. وَ3- مَسُّ الْمُصْحَفِ. وَ4- حَمْلُهُ. Siapa yang batal wudhunya maka dia diharamkan 4 hal, yaitu [1] shalat, [2] thawaf, [3] memegang mushaf, dan [4] membawanya. [Yang Diharamkan Bagi Orang Junub] وَيَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ 1-الصَّلاَة. وَ2- الطَّوَافُ. وَ3- مَسُّ الْمُصْحَفِ. وَ4- حَمْلُهُ. وَ5- اللُّبْثُ فِيْ الْمَسْجِدِ. وَ6- قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ. Orang junub diharamkan 6 hal, yaitu [1] shalat, [2] thawaf, [3-4] memegang mushaf dan membawanya, [5] berdiam diri di masjid, dan [6] membaca Al-Qur’an. [Yang Diharamkan Bagi Wanita Haid] وَيَحْرُمُ بِالْحَيْضِ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ 1- الصَّلاَةُ. وَ2- الطَّوَافُ. وَ3- مَسُّ الْمُصْحَفِ. وَ4- حَمْلُهُ. وَ5- اللُّبْثُ فِيْ الْمَسْجِدِ. وَ6- قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ. وَ7- الصَّوْمُ. وَ8- الطَّلاَقُ. وَ9- المُرُوْرُ فِيْ المَسْجِدِ إِنْ خَافَتْ تَلْوِيْثَهُ. وَ10- الاسْتِمْتَاعُ بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ. Wanita haidh diharamkan 10 hal, yaitu [1] shalat, [2] thawaf, [3-4] menyentuh mushaf dan membawanya, [5] berdiam diri di masjid, [6] membaca Al-Qur’an, [7] puasa, [8] talaq, [9] melewati masjid jika takut mengotorinya, dan [10] istimta’ bercumbu di sekitar daerah antara pusar dan lutut. [Sebab Tayammum] أَسْبَابُ التَّيَمُّمِ ثَلاَثَةٌ 1- فَقْدُ الْمَاءِ وَ2- الْمَرَضُ. وَ3-الاحْتِيَاجُ إِلَيْهِ لِعَطَشِ حَيَوَانٍ مُحْتَرِمٍ. Fasal Sebab tayammum ada 3, yaitu [1] tidak ada air, [2] sakit, dan [3] airnya dibutuhkan untuk memberi minum binatang kehausan yang muhtarom yang dimuliakan syara’. غَيْرُ الْمُحْتَرَم سِتَّةٌ 1- تَارِكُ الصَّلاَةِ. وَ2- الزَّانِيْ الْمُحْصَنُ. وَ3- الْمُرْتَدُّ. وَ4-الكَافِرُ الْحَرْبِيُّ. وَ5- الْكَلْبُ الْعَقُوْرُ. وَ6- الْخِنْزِيْرُ. Orang yang tidak dihormati ada 6, yaitu [1] peninggal shalat, [2] pezina muhshon, [3] murtad, [4] kafir harbi, [5] anjing galak, dan [6] babi. [Syarat Tayammum] شُرُوْطُ التَّيَمُّمِ عَشَرَةٌ 1- أَنْ يَكُوْنَ بِتُرَابٍ. وَ2- أَنْ يَكُوْنَ التُّرَابُ طَاهِرَاً. وَ3- أَنْ يَكُوْنَ مُسْتَعْمَلاٍ. وَ4- أنْ لاَ يُخَالِطَهُ دَقِيْقٌ وَنَحْوُهُ. وَ5- أَنْ يَقْصِدَهُ. وَ6- أنْ يَمْسَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ بِضَرْبَتَيْنِ. وَ7- أَنْ يُزِيْلَ النَّجَاسَةَ أَوَّلاً. وَ8- أَنْ يَجْتَهِدَ فِيْ الْقِبْلَةِ قَبْلَهُ. وَ9- أنْ يَكُوْنَ التَّيَمُّمُ بَعْدَ دُخُوْلِ الْوَقْتِ. وَ10- أَنْ يَتَيَمَّمَ لِكُلِّ فَرْضٍ. Fasal Syarat tayammum ada 10, yaitu [1] dengan debu, [2] debunya suci, [3] tidak debu musta’mal sudah digunakan, [4] tidak bercampur gandum atau semacamnya, [5] sengaja tayammum, [6] membasuh wajah dan dua tangannya dengan dua kali tepukan tanah, [7] sebelumnya sudah membersihkan najis badan, [8] ijtihad menentukan qiblat, [9] tayammum setelah masuk waktu, dan [10] tayammum sekali untuk tiap shalat fardhu. [Rukun Tayammum] فُرُوْضُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةٌ الأَوَّلُ نَقْلُ التُّرَابِ. الثَّانِيْ النِّيَّةُ. الثَّالِثُ مَسْحُ الْوَجْهِ. الرَّابعُ مَسْحُ الْيَدَيْنِ إَلَى الْمِرْفَقَيْنِ. الْخَامِسُ التَّرْتِيْبُ بَيْنَ الْمَسْحَتَيْنِ. Fasal Fardhu rukun tayammum ada 5, yaitu [1] memindah debu, [2] niat, [3] mengusap wajah, [4] mengusap tangan hingga siku-siku, dan [5] tertib dalam mengusap. [Pembatal Tayammum] مُبْطِلاَتُ التَّيَمُّمِ ثَلاَثَةٌ 1- مَا أَبْطَلَ الْوَضُوْءَ. وَ2- الرِّدَّةَ. وَ3- تَوَهُّمُ الْمَاءِ إِنْ تَيَمَّمَ لِفَقْدِهِ. Fasal Pembatal-pembatal tayammum ada 3, yaitu [1] apa saja yang membatalkan wudhu, [2] murtad, dan [3] ragu adanya air jika sebab tayamumnya karena ketiadaan air. [Najis yang Bisa Suci] الَّذِيْ يَطْهُرُ مِنَ النَّجَاسَاتِ ثَلاَثَةٌ 1- الْخَمْرُ إِذَا تَخَلَّلَتْ بِنَفْسِهَا. وَ2- جِلْدُ الْمَيْتَةِ إِذَا دُبِغَ وَ3- مَا صَارَ حَيَواناً. Fasal Yang bisa menjadi suci dari najis ada 3, yaitu [1] khomr arak yang berubah dengan sendirinya menjadi cuka, [2] kulit bangkai jika disamak, dan [3] binatang yang disembelih. [Pembagian Najis] النَّجَاسَاتُ ثَلاَثٌ مُغَلَّظَةٌ، وَمُخَفَّفَةٌ، وَمُتَوَسِّطَةٌ. الْمُغَلَّظَةُ نَجَاسَةُ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيْرِ وَفَرْغُ أَحدِهِمَا. وَالْمُخَفَّفَة بَوْلُ الصَّبِيِّ الَّذِيْ لَمْ يَطْعِمْ غَيْرَ اللَّبَنِ وَلَمْ يَبْلُغِ الْحَوْلَيْنِ. وَالْمُتُوَسَّطَةُ سَائِرُ النَّجَاسَاتِ. Fasal Najis itu ada 3, yaitu [1] mughollazhoh, [2] mukhoffafah, dan [3] mutawasithoh. Mughollazhoh adalah najis anjing dan babi beserta anak-anaknya, mukhoffafah adalah kencing bayi yang belum makan apapun selain ASI dan belum mencapai 2 tahun, dan mutawasithoh adalah najis selain keduanya. [Cara Menghilangkan Najis] الْمُغَلَّظَةُ تَطْهُرُ بِسَبْعِ غَسَلاَتٍ بَعْد إِزَالَةِ عَيْنِهَا إِحْدَاهُنَّ بِتُرَابٍ. وَالْمُخَفّفَةُ تَطْمُرُ بِرَشِّ الْمَاءِ عَلَيْهَا مَعَ الْغَلَبَةِ وَإِزَالَةِ عَيْنِها. وَالْمُتَوَسَّطَةُ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ عَيْنِيَّةٌ، وَحُكْمِيَّةٌ. الْعَيْنِيَّةُ الَّتِيْ لَهَا لَوْنٌ وَرِيْحٌ وَطَعْمٌ، فَلاَ بُدَّ مِنْ إِزَالَةِ لَونِهَا وَريِحِهَا وَطَعْمِهَا. وَالْحُكْمِيَّةُ الَّتِيْ لاَ لَوْنَ وَلاَ ريْحَ وَلاَ طَعْمَ لَهَا، يَكْفِيْكَ جَرْيُ الْمَاءِ عَلَيْهَا. Fasal Mughollazhoh disucikan dengan 7 basuhan setelah dihilangkan najisnya terlebih dahulu di mana salah satunya dengan debu. Mukhoffafah disucikan dengan memercikkan air di atasnya disertai menghilangkan najisnya. Mutawassithoh dibagi dua, yaitu [1] ainiyah dan [2] hukmiyah. Najis aini adalah najis yang memiliki warna, aroma, dan rasa sehingga cara mensucikannya harus menghilangkan warna, aroma, dan rasanya. Najis hukmi adalah najis yang tidak berwarna, beraroma, dan berasa sehingga cukup mengalirkan air di atasnya. [Haid dan Nifas] أًقَلُّ الْحَيْضِ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ. وَغَالِبُهُ سِتٌّ أَوْ سَبْعٌ. وَأَكْثَرُهُ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْماً بِلَيَالِيْهَا. أَقَلُّ الطُّهْرِ بَيْنَ الْحَيْضَتَيْنِ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمَاً. وَغَالِبُهُ أَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ يَوْمَاً، أَوْ ثَلاَثَةٌ وَعِشْرُوْنَ يَوْمَاً. وَلاَ حَدَّ لأَكْثَرِهِ. أَقَلُّ النِّفَاسِ مَجَّةٌ. وَغَالِبُهُ أَرْبَعُوْنَ يَوْمَاً. وَأَكُثَرُهُ سِتُّوْنَ يَوْمَاً. Fasal Sedikitnya haidh adalah sehari semalam, umumnya 6 atau 7 hari, dan terbanyak adalah 15 sehari semalam. Sedikitnya masa suci antara dua haidh adalah 15 hari, umumnya 24 atau 23 hari, tetapi terkadang seseorang lebih lama dari itu. Masa nifas paling sedikit adalah setetes darah, umumnya 40 hari, dan maksimal 60 hari. [KITAB SHALAT] [Udzur Shalat] أَعْذَارُ الصَّلاةِ اثْنَانِ 1- النَّوْمُ. وَ2- النِّسْيَانُ. Fasal Udzur shalat ada dua, yaitu tidur dan lupa. [Syarat Shalat] شُرُوْطُ الصَّلاَةِ ثَمَانِيَةٌ 1- طَهَارَةُ الْحَدَثَيْنِ. وَ2- الطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ فِيْ الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ. وَ3- سَتْرُ الْعَوْرَةِ. وَ4- اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ. وَ5- دُخُوْلُ الْوَقْتِ. وَ6- الْعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهَا. وَ7- أَنْ لاَ يَعْتَقِدَ فَرْضَاً مِنْ فُرُوْضِهَا سُنَّةً. وَ8- اجْتِنَابُ الْمُبْطِلاَتِ. Fasal Syarat shalat ada 8, yaitu [1] suci dari dua hadats besar dan kecil, [2] suci dari najis pada pakaian, badan, dan tempat, [3] menutup aurat, [4] menghadap qiblat, [5] masuk waktu, [6] mengetahui fardhu shalat, [7] tidak meyakini fardhu shalat sebagai sunnah, dan [8] menjauhi pembatal-pembatalnya. [Pembagian Hadats] الأَحْدَاثُ اثْنَانِ أَصْغَرُ، وَأَكْبَرُ. فَالأَصْغَرُ مَا أوْجَبَ الْوُضُوْءَ. وَالأَكبَرُ مَا أَوْجَبَ الْغُسْلَ. Hadats itu ada dua, yaitu ashghor kecil seperti kencing dan akbar besar seperti junub. Ashghor adalah hadats yang mewajibkan wudhu dan akbar adalah yang mewajibkan mandi. [Pembagian Aurot] الْعَوْرَاتُ أَرْبَعٌ 1- عَوْرَةُ الرَّجُلِ مُطْلَقَاً. وَالأَمَةِ فِيْ الصَّلاَةِ مَا بَيْنَ السُّرَةِ والرُّكْبَةِ. وَ2- عَوْرَةُ الْحُرَّةِ فِيْ الصَّلاَةِ جَمِيْعُ بَدَنِهَا مَا سِوَى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ. وَ3- عَوْرَةُ الْحُرَّةِ وَالأَمَةِ عِنْدَ الأَجَانِبِ جَمِيْعُ الْبَدَنِ. وَ4- عِنْدَ مَحَارِمِهمَا وَالنِّسَاءِ مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ. Aurot itu ada 4, yaitu [1] aurot lelaki mutlak maksudnya, di dalam shalat dan luar shalat dan wanita di dalam shalat yakni antara pusar dan lutut, [2] aurot wanita merdeka bukan budak di dalam shalat adalah seluruh badannya selain wajah dan telapak tangan, [3] aurot wanita merdeka dan budak wanita terhadap lelaki asing adalah seluruh badannya, dan [4] sementara aurot keduanya terhadap mahrom dan wanita lain adalah antara pusar dan lutut. [Rukun Shalat] أَرْكَانُ الصَّلاَةِ سَبْعَةَ عَشَرَ الأَوَّلُ النِّيَّةُ. الثَّانِيْ تَكْبِيْرةُ الإِحْرَامِ. الثَّالِثُ الْقِيَامُ عَلَى القَادِرِ فِيْ الْفَرْضِ. الرَّابعُ قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ. الْخَامِسُ الرَّكُوْعُ. السَّادِسُ الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. السَّابعُ الاعْتِدَالُ. الثَّامِنُ الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. التَّاسِعُ السُّجُوْدُ مَرَّتَيْنِ. الْعَاشِرُ الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. الْحَادِيْ عَشَرَ الْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ. الثَّانِيْ عَشَرَ الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. الثَّالِثَ عَشَرَ التَّشَهُّدُ الأَخِيْرُ. الرَّابِعَ عَشَرَ الْقُعُوْدُ فِيْهِ. الْخَامِسَ عَشَرَ الصَّلاَةُ عَلَىَ النَّبِيِّ فِيْهِ. السَّادِسَ عَشَرَ السَّلاَمُ. السَّاِبَعَ عَشَرَ التَّرْتِيْبُ. Fasal Rukun shalat ada 17, yaitu [1] niat, [2] takbiratul ihrom, [3] berdiri bagi yang mampu dalam shalat wajib, [4] membaca Al-Fatihah, [5] ruku’, [6] thuma’ninah, [7] i’tidal, [8] thuma’ninah saat i’tidal, [9] sujud dua kali, [10] thuma’ninah saat sujud, [11] duduk antara dua sujud, [12] thuma’ninah saat duduk, [13] tasyahhud akhir, [14] duduk, [15] shalawat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, [16] salam, dan [17] tertib. [Niat Shalat] النِّيَّةُ ثَلاَثُ دَرَجَاتٍ 1-إنْ كَانَتِ الصَّلاَةُ فَرْضَاً. وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ، وَالتَّعْيِيْنُ، وَالْفَرْضِيَّةُ. و2- إِنْ كَانَتْ نَافِلَةً مُؤقَّتَةً كَرَاتِبَةٍ أَوْ ذَاتِ سَبَبٍ، وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ وَالتَّعْيِيْنُ. وَ3- إِنْ كَانَتْ نَافِلَةً، وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ فَقَطْ. الْفِعْلُ أُصَلِّيْ. وَالتَّعْيِيْنُ ظُهْرَاً، أَوْ عَصْرَاً. وَالْفَرْضِيَّةُ فَرْضَاً. Fasal niat ada 3 tingkatan, yaitu [1] jika shalat fardhu maka wajib menyengaja berbuat dan ta’yin menentukan jenis shalat serta fardhiyah menyatakan kefardhuan, [2] jika shalat sunnah muaqqot yang ditentukan waktunya seperti sunnah rawatib atau yang memiliki sebab maka wajib menyengaja berbuat dan ta’yin, dan [3] jika shalat sunnah mutlak tidak terikat waktu maka wajib menyengaja berbuat saja. Yang dimaksud berbuat adalah ucapan ushalli aku shalat, ta’yin adalah ucapan Zhuhur atau Ashar, dan fardhiyyah adalah fardhu. [Syarat Takbiratul Ihrom] شُرُوْطُ تَكْبِيْرَةِ الإِحْرامِ سِتَّةَ عَشَرَ 1- أَنْ تَقَعَ حَالَةَ الْقِيَامِ فِيْ الْفَرْضِ. وَ2- أَنْ تَكُوْن بِالْعَرَبِيَّةِ. وَ3وَ4- أَنْ تَكُوْنَ بِلَفْظِ » الْجَلاَلَةِ وَلَفْظِ » أَكْبَرُ وَ5- التَّرْتِيْبُ بَيْنَ اللَّفْظَيْنِ. وَ6- أَنْ لاَ يَمُدَّ هَمْزَةَ » الْجَلاَلَةِ وَ7- عَدَمُ مَدِّ بَاءِ » أَكْبَرُ . وَ8- أَنْ لاَ يُشَدِّدَ » الْبَاءَ وَ9- أَنْ لاَ يَزِيْدَ وَاواً سَاكِنَةً، أَوْ مُتَحَرِّكَةً بَيْنَ الْكَلِمَتَيْنِ. وَ10- أَنْ لاَ يَزِيْدَ وَاواً قَبْلَ » الْجَلاَلةِ وَ11- أَنْ لاَ يَقِفَ بَيْنَ كَلِمَتَيِ التَّكْبِيْرِ وَقْفَةً طَوِيْلَةً وَلاَ قَصِيْرَةً. وَ12- أَنْ يُسْمِعَ نَفْسَهُ جَمِيْعَ حُرُوْفِها. وَ13- دُخُوْلُ الْوَقْتِ فِيْ الْمُؤَقَّتِ. وَ14- إِيْقَاعُهَا حَالَ الاسْتِقْبَال. وَ15- أَنْ لاْ يُخِلَّ بِحَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِهَا. وَ16- تَأْخِيْرُ تَكْبِيْرَةِ الْمَأمُوْمِ عَنْ تَكْبِيْرَةِ الإِمَام. Fasal Syarat takbiratul ihram ada 16, yaitu [1] dibaca saat berdiri dalam shalat fardhu, [2] berbahasa Arab, [3&4] berlafazh jalalah Allah dan berlafazh Akbar, [5] tertib urut antara dua lafazh tersebut, [6] hamzah jalalah tidak boleh dipanjangkan, [7] BA akbar tidak dipanjangkan, [8] BA akbar tidak ditasydid, [9] tidak ditambah dengan wawu mati atau berharokat di antara dua kata itu, [10] tidak boleh ditambah wawu sebelum jalalah, [11] tidak berhenti di antara dua lafazh takbir baik lama atau sebentar, [12] dirinya mendengar semua huruf-hurufnya, [13] masuk waktu dalam shalat muaqqat, [14] terjadinya sewaktu menghadap qiblat, [15] tidak merubah satu pun dari huruf-huruf takbir, dan [16] mengakhirkan takbir makmum dari takbir imam. [Syarat Al-Fatihah] شُرُوْطُ الْفَاتِحَةِ عَشَرَةٌ 1- التَّرْتِيْبُ. وَ2- الْمُوَالاَةُ وَ3- مُرَاعَاةُ حُرُوْفِهَا. وَ4- مُرَاعَاةُ تَشْدِيْدَتِهَا. وَ5- أَنْ لاَ يَسْكُتَ سَكْتَةً طَوِيْلَةً، وَلاَ قَصِيْرَةً يَقْصِدُ بِهَا قَطْعَ الْقِرَاءَةِ. وَ6- قِرَاءَةُ كُلِّ آيَاتِهَا، وَمِنْهَا الْبَسْمَلَةُ. وَ7- عَدَمُ اللَّحْنِ الْمُخِلِّ بِالْمَعْنَى وَ8- أَنْ تَكُوْنَ حَالَةَ الْقِيَامِ فِيْ الْفَرْضِ. وَ9- أَنْ يُسْمِعَ نَفْسَهُ الْقِرَاءَةَ. وَ10- أَنْ لاَ يَتَخَلَّلَهَا ذِكْرٌ أَجْنَبِيٌّ. Fasal Syarat Al-Fatihah ada 10, yaitu [1] tartib, [2] muwalah urut dan tidak disela, [3] menjaga hurufnya, [4] menjaga tasydidnya, [5] tidak berhenti lama atau sebentar dalam memutus bacaan, [6] membaca semua ayatnya termasuk basmalah, [7] tidak lahn salah baca yang bisa merubah makna, [8] membacanya dengan berdiri saat shalat Fardhu, [9] dirinya mendengarkan bacaannya, dan [10] tidak menyela-nyelanya dengan zikir lainnya. [Tasydid Al-Fatihah] تَشْدِيْدَاتُ الْفَاتِحَةِ أَرْبَعَ عَشَرَةَ 1- } بِسْمِ اللهِ { فَوْقَ الَّلامِ. 2- } الرَّحْمنِ { فَوْقَ الرَّاءِ. 3- } الرَّحِيْمِ { فَوْقَ الرَّاءِ. 4- } الْحَمْدُ للهِ { فَوْقَ لاَمِ الْجَلاَلَةِ. 5- } رَبِّ الْعَالَمِيْنَ { فَوْقَ الْبَاءِ. 6- } الرَّحْمنِ { فَوْقَ الرَّاءِ. 7- } الرَّحِيْمِ { فَوْقَ الرَّاءِ. 8- } مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ { فَوْقَ الدِّالِ. 9- } إِيَّاكَ نَعْبُدُ { فَوْقَ الْيَاءِ. 10- } إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ { فَوْقَ الْيَاءِ. 11- } إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقٍيْمَ { فَوْقَ الصَّادِ. 12- } صِرَاطَ الَّذِيْنَ { فَوْقَ اللاَّمِ. 13- و14- } أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ { فَوْقَ الضَّادِ وَاللاَّمِ. Fasal Tasydid Al-Fatihah ada 14, yaitu [1] bismillah tasydidnya di atas huruf LAM, [2] Ar-Rohmaani di atas RO, [3] Ar-Rahim di atas RO, [4] Alhamdu lillahi di atas LAM JALALAH, [5] Rabbil Alamin di atas BA, [6] Ar-Rohmaani di atas RO, [7] Ar-Raohiimi di atas RO, [8] Ad-Diini di atas DAAL, [9] Iyyaka Na’budu di atas YA, [10] Iyyaka Nastaiinu di atas YA, [11] Ihdinash Shiroothol Mustaqiim di atas SHOOD, [12] Shiroothol Ladziina di atas LAM, [13&14] An’amta Alaihim Ghoiril Maghdzuubi Alaihim waladh Dhoolliin di atas DHOOD dan LAAM. [Waktu Mengangkat Tangan] يُسَنُّ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِيْ أَرْبَعَةِ مَوَاضِعَ 1- عِنْدَ تَكْبِيْرَةِ الإِحْرَامِ. وَ2- عِنْدَ الرُّكُوْعِ. وَ3- عِنْدَ الإِعْتِدَالِ. وَ4- عِنْدَ الْقِيَامِ مِنْ التَشَهُّدِ الأَوَّلِ. Fasal Disunnahkan menggangkat dua tangan di 4 tempat, yaitu [1] saat Takbiratul ihrom, [2] saat ruku, [3] saat itidal, dan [4] saat bangkit dari tasyahhud awwal. [Syarat Sujud] شُرُوْطُ السُّجُوْدِ سَبْعَةٌ 1- أَنْ يَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْضَاءٍ. وَ2- أَنْ تَكُوْنَ جَبْهَتَهَ مَكْشُوْفَةٍ. وَ3- التَّحَامُلُ بِرَأْسِهِ. وَ4- عَدَمُ الْهُوِيِّ لِغَيْرِهِ. وَ5- أَنْ لاَ يَسْجُدَ عَلَى شَيْءٍ يَتَحَرَّكُ بِحَرَكَتِهِ. وَ6- ارْتِفَاعُ أَسَافِلِهِ عَلَى أَعَالَيْهِ. وَ7- الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ. Fasal Syarat sujud ada 7, yaitu [1] sujud di 7 anggota sujud, [2] dahinya terbuka, [3] meletakkan kepalanya, [4] tidak meniatkan untuk selain sujud, [5] tidak sujud di atas sesuatu yang bergerak-gerak, [6] kepala lebih rendah dari pantat, [7] thuma’ninah. [Anggota Sujud] خَاتِمَةٌ أَعْضَاءُ السُّجُوُدِ سَبْعَةٌ 1- الْجَبَهَةُ. وَ2- وَ3- بُطُوْنُ أَصَابعِ الْكَفَّيْنِ. وَ4- وَ5- الرُّكْبَتَانِ. وَ6- وَ7- بُطُوْنُ أَصَابعِ الرِّجْلَيْنِ. Khotimah Anggota sujud ada 7, yaitu [1] dahi, [2&3] dua telapak tangan bagian dalam, [4&5] dua lutut, [6&7] jari-jari dua kaki. [Tasydid Tasyahhud] تَشْدِيْدَاتُ التَّشَهُّدِ إِحْدَى وَعِشْرُوْنَ خَمْسٌ [زَائِدَةٌ] فِيْ أَكْمَلِهِ، وَسِتَّ عَشْرَةَ فِيْ أَقَلِّهِ. 1- و2- » التَّحِيَّاتُ عَلَى التَّاءِ وَاليَاءِ. 3- » الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ عَلَى الصَّادِ. 4- وَ5- » الطَّيِّبَاتُ عَلَى الطَّاءِ وَالْيَاءِ. 6- » للهِ عَلَى لاَمِ الْجَلاَلَةِ. 7- » السَّلاَمُ عَلَى السَّيْنِ. 8- وَ9- وَ10- » عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ عَلَى الْيَاءِ، وَالنُّوْنِ، وَاليَاءِ. 11- » وَرَحْمَةُ اللهِ عَلَى لاَمِ الْجَلاَلَةِ. 12- » وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَى السِّنْنِ. 13- » عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ عَلَى لاَمِ الْجَلاَلةِ. 14- » الصَّالِحِيْنَ عَلَى الصَّادِ. 15- » أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ عَلَى لاَمِ أَلفٍ. 16- و17- » إلاَّ اللهُ عَلَى لاَمِ أَلِفٍ وَلاَمِ الْجَلاَلَةِ. 18- » وَأَشْهَدُ أَنْ عَلَى النُّوْنِ. 19- وَ20- و21- » مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ عَلَى مِيْمِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى الرَّاءِ، وَعَلَى لاَمِ الْجَلاَلَةِ. Fasal Tasydid tasyahhud ada 21 yang 5 penyempurna dan 16 sisanya yang minimal, yaitu [1&2] التَّحِيَّاتُ pada TA dan YA, [3] الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ pada SHOOD, [4&5] الطَّيِّبَاتُ pada THOO dan YA, [6] للهِ pada LAM jalalah, [7] السَّلاَمُ pada SIN, [8-9-10] عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ pada YA, NUN, dan YA, [11] وَرَحْمَةُ اللهِ pada LAM Jalaalah, [12] وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ pada SIN, [13] عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ pada LAM Jalaalah, [14] الصَّالِحِيْنَ pada SHOD, [15] أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ pada LAM ALIF, [16-17] إلاَّ اللهُ pada LAM ALIF dan LAM Jalaalah, [18] وَأَشْهَدُ أَنْ pada NUN, dan [19,20,21] مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ pada MIM, RO, dan LAM Jalaalah. [Tasydid Shalawat] تَشْدِيْدَاتُ أَقَلِّ الصَّلاةِ عَلَى النَّبِيِّ أَرْبَعٌ 1- » اللًّهُمَّ عَلَى اللاَّمِ وَالمِيْمِ. 2- » صَلِّ عَلَى اللاَّمِ. 3- » عَلَى مُحَمَّدٍ عَلَى الْمِيْمِ. Fasal Tasydid minimal dalam shalawat kepada Nabi ada 4, yaitu [1] ALLAHUMMA pada LAM dan MIM, [2] SHOLLI pada LAM, [3] MUHAMMAD pada MIM, dan [4] [Salam Minimal] Fasal Salam minimal adalah Assalamu alaikum dengan tasydid pada SIN. [Pembagian Waktu Shalat] أَوْقَاتُ الصَّلاَةِ خَمْسَةٌ 1- أَوَّلُ وَقْتِ الظُّهْرِ زَوَالُ الشَّمْسِ. وَآخِرُهُ مَصِيْرُ ظِلِّ الشَّيْءِ مِثْلَهُ، غَيْرَ ظِلِّ الاسْتِوَاءِ. وَ2- أَوَّلُ وَقْتِ الْعَصْرِ إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ وَزَادَ قَلِيْلاً. وَآخِرُهُ عِنْدَ غُرُبُ الشَّمْسِ. وَ3- أَوَّلُ وَقْتِ الْمَغْرِبِ غُرُوْبُ الشَّمْسِ. وَآخِرُهُ غُرُوْبُ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ. وَ4- أَوَّلُ وَقْتِ العِشَاءِ غُرُوْبُ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ. وَآخِرُهُ طُلُوْعُ الْفَجْرِ الصَّادِقِ. وَ5- أَوَّلُ وَقْتِ الصُّبْحِ طُلُوْعُ الْفَجْرِ الصَّادِقِ. وَأَخِرُهُ طُلُوْعُ الشَّمْسِ. Fasal Waktu-waktu shalat ada 5 yaitu [1] awal waktu Zhuhur adalah tergelincirnya matahari dan akhir waktunya adalah jika bayang-bayang sesuatu panjangnya sama dengan bendanya, [2] awal waktu Ashar adalah jika bayang-bayang sesuatu sama panjangnya dengan bendanya dan lebih sedikit, dan akhir waktunya adalah terbenamnya matahari, [3] awal waktu Maghrib adalah terbenamnya matahari dan akhir waktunya adalah hilangnya mega merah, [4] awal waktu Isya adalah hilangnya mega merah dan akhir waktunya adalah munculnya fajar shodiq, dan [5] awal waktu Shubuh adalah munculnya fajar shodiq dan akhir waktunya adalah terbitnya matahari. [Pembagian Mega] الأَشْفَاقُ ثَلاَثَةٌ 1- أَحْمَرُ . وَ2- أَصْفَرُ. وَ3- أَبْيَضُ. الأَحْمَرُ مَغْرِبٌ. والأَصْفَرُ وَالأَبْيَضْ عِشَاءٌ. وَيُنْدَبُ تَأْخِيْرُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَنْ يَغِيْبَ الشَّفَقُ الأَصْفَر والأَبْيَضُ. Mega ada 3, yaitu mega merah, kuning, dan putih. Mega merah tanda Maghrib, sementara kuning dan putih tanda Isya. Disunnahkan mengakhirkan shalat Isya hingga hilangnya mega merah dan putih. [Waktu Larangan Shalat] تَحْرُمُ الصَّلاَةُ الَّتِيْ لَيْسَ لَهَا سَبَبُ مُتَقَدِّمٌ وَلاَ مُقَارِنٌ فِيْ خَمْسَةِ أَوْقَاتٍ 1- عِنْدَ طُلُوْعِ الشِّمْسِ حَتَّى تَرْتَفِعَ قَدْرَ رُمْحٍ. وَ2- عِنْدَ الاسْتِوَاءِ فِيْ غِيْرِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ حَتَّى تَزُوْلَ. وَ3- عِنْدَ الإِصْفِرَارِ حَتْى تَغْرُبَ. وَ4- بَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ. وَ5- بَعْدَ صَلاَةِ الْعَصْرِ حَتْى تَغْرُبَ. Fasal Shalat yang diharamkan yang tidak memiliki sebab yang mendahuluinya atau menyertainya ada 5 waktu, yaitu [1] saat matahari terbit hingga meninggi sekitar ujung tombak, [2] saat waktu istiwa matahari di tengah-tengah selain hari Jum’at hingga bergeser, [3] saat kekuning-kuningan hingga matahari terbenam, [4] setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit, dan [5] setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam. [Saktah Shalat] سَكْتَاتُ الصَّلاَةِ سِتٌ 1- بَيْنَ تَكْبِيْرَةِ الإِحْرَامِ وَدُعَاءِ الافْتِتَاح. وَ2- بَيْنَ دُعَاءِ الافْتِتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ. وَ3- بَيْنَ الْفَاتِحَةِ وَالتَّعَوُّذِ. وَ4- بَيْنَ آخِرِ الْفَاتِحَةِ وَآمِيْنَ. وَ5- بَيْنَ آمِيْنَ وَالسُّوْرَةِ. وَ6- بَيْنَ السُّوْرَةِ وَالرُّكُوْعِ. Fasal Saktah berhenti sejenak dalam shalat ada 6, yaitu [1] antara takbiratul ihrom dan doa iftitah, [2] antara iftitah dan ta’awwud, [3] antara Al-Fatihah dan ta’awwudz, [4] antara akhir Al-Fatihah dan aamiin, [5] antara amin dan surat, [6] antara surat dan rukuk. [Rukun Thuma’ninah] الأَرْكَانُ الَّتِيْ تَلْزَمُ فِيْهَا الطُّمَأْنِيْنَةُ أَرْبَعَةٌ 1- الرُّكُوْعُ. وَ2- الاِعْتِدَالُ. وَ3- السُّجُوْدُ. وَ4-الْجُلُوْسُ السَّجْدَتَيْنِ . Fasal Rukun yang melazimkan thuma’ninah tenang sejenak ada 4, yaitu ruku, itidal, sujud, duduk antara dua sujud. الظُّمَأْنِيْنَةُ هِيَ سُكُوْنٌ بَعْدَ حَرَكَةٍ؛ بِحَيْثُ يَسْتَقِرُّ كُلُ عُضْوٍ مَحَلَّهُُ بِقَدْرِ » سُبْحَانَ اللهِ Thuma’ninah adalah berdiam setelah bergerak di mana tiap anggota badan tenang di tempatnya, lamanya sekita ucapan Subhanallah. [Sebab Sujud Sahwi] أَسْبَابُ سُجُوْدِ السَّهْوِ أَرْبَعَةٌ الأوَّلُ تَرْكُ بَعْضٍ مِنْ أَبْعَاضِ الصَّلاةِ، أَوْ بَعْضِ الْبَعْضِ. الثَّانِيْ فِعْلُ مَا يُبْطِلُ عَمْدُهُ وَلاَ يُبْطلُ سَهْوُهُ، إِذَا فَعَلَهُ نَاسِياً. الثَّالِثُ نَقْلُ رُكْنٍ قَوْلِيٍّ غَيْرِ مَحَلِّهِ. الرَّابعُ إِيْقَاعُ رُكْنٍ فِعْلِيٍّ مَعَ احْتِمَالِ الزِّيَادِةِ. Fasal Sebab sujud sahwi ada 4, yaitu [1] meninggalkan bagian atau sebagian shalat, [2] meninggalkan sesuatu yang membatalkan shalat jika dikerjakan sengaja tetapi tidak membatalkan jika dikerjakan karena lupa, [3] memindah rukun ucapan ke tempat lain, dan [4] mengerjakan rukun fi’li saat dugaan menambah. [Ab’ad Shalat] أَبْعَاضُ الصَّلاَةِ سَبْعَةٌ 1-التَّشَهُّدُ الأَوَّلُ. وَ2- قُعُوْدُهُ. وَ3- الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ فِيْهِ. وَ4- الصَّلاَةُ عَلَى الآلِ فِيْ التَّشَهُدِ الأخِيْرِ. وَ5- الْقُنُوْتُ. وَ6- قِيَامُهُ. وَ7- الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْهِ. Fasal Ab’ad termasuk bagian shalat ada 7, yaitu [1] tasyahhud, [2] duduk tasyahhud, [3] shalawat kepada Nabi saat tasyahhud, [4] shalawat kepada keluarga Nabi saat tasyahhud akhir, [5] qunut, [6] berdiri saat qunut, dan [7] shalawat kepada Nabi dan keluarga dalam qunut. [Pembatal Shalat] تَبْطُلُ الصَّلاَةُ بِأَرْبَعَ عَشْرَةَ خَصْلَةً 1- بِالْحَدَثِ. وَ2- بِوُقُوْعِ النَّجَاسَةِ إِنْ لَمْ تُلْقَ حَالاً مِنْ غَيْرِ حَمْلٍ. وَ3- انْكِشَافِ الْعَوْرَةِ إِنْ لَمْ تُسْتَرْ حَالاً. وَ4- النُّطْقِ بِحَرْفَيْنِ أَوْ حَرْفٍ مُفْهِمٍ عَمْداً. وَ5- بِالْمُفَطِّرِ عَمْداً. وَ6- بِالأَكْلِ الْكَثِيْرِ نَاسِياً. وَ7- ثَلاَثِ حَرَكَاتٍ مُتَوَالِيَاتٍ وَلَوْ سَهْواً. وَ8- الْوَثْبَةِ الْفَاحِشَةِ. وَ9- الضَّرْبَةِ الْمُفْرِطَةِ. وَ10- زِيَادَةِ رُكْنٍ فِعْلِيٍّ عَمْداً. وَ11- التَّقَدُّمِ عَلَى إِمَامِهِ بِرُكْنَيْنِ، وَالتَّخَلُّفِ بِهِمَا بِغَيْرِ عُذْرٍ. وَ12- نِيَّةِ قَطْعِ الصَّلاَةِ. وَ13- تَعْلِيْقِ قَطْعِهَا بِشيءٍ. وَ14- التَّرَدُّدِ فِيْ قَطْعِهَا. Fasal shalat batal karena 14 perkara, yaitu [1] hadats, [2] kejatuhan najis kecuali langsung dibuang tanpa dibiarkan, [3] tersingkap aurot kecuali langsung ditutup, [4] berbicara dua atau satu huruf yang bisa dipahami dengan sengaja, [5] melakukan pembatal puasa dengan sengaja, [6] makan banyak meski lupa, [7] gerakan tiga kali yang berturut-turut meskipun lupa, [8] melompat yang keras, [9] memukul keras, [10] menambah rukun fi’li dengan sengaja, [11] mendahului iman dalam dua rukun dan ketinggalan imam dua rukun tanpa uzur, [12] niat memutus shalat, [13] sengaja memutus shalat dengan sesuatu, dan [14] ragu-ragu dalam membatalkan shalat. [Niat Imamah] الَّذِيْ يَلْزَمُ فِيْهِ نِيَّةُ الإمَامَةِ أَرْبَعٌ 1- الْجُمُعَةُ. وَ2- الْمُعَادَةُ. وَ3- الْمَنْذُوْرَةُ جَمَاعَةً. وَ4-الْمُتَقَدِّمَةُ فِيْ الْمَطَرِ. Fasal Shalat yang mengharuskan meniatkan imamah ada 4, yaitu [1] shalat Jumat, [2] mu’adah mengulang shalat berjamaah, [3] nazar shalat berjamaah, dan [4] jamak takdim saat hujan. [Syarat Menjadi Makmum] شُرُوْطُ الْقُدْوَةِ أَحَدَ عَشَرَ 1- أَنْ لاَ يَعْلَمَ بُطْلاَنَ صلاَةِ إِمَامِهِ بِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ. وَ2- أَنْ لاَ يَعْتَقِدَ وُجُوبَ قَضَائِهَا عَلَيْهِ. وَ3- أَنْ لاَ يَكُوْنَ مَأْمُوْمَاً. وَ4- لاَ أُمِّيّاً. وَ5- أَنْ لاَ يَتَقَدَّمَ عَلَى إَمَامِهِ فِيْ الْمَوْقِفِ. وَ6- أَنْ يَعْلَمَ انْتِقَالاَتِ إِمَامِهِ. وَ7- أَنْ يَجْتَمِعَا فِيْ مَسْجِدٍ، أَوْ ثَلاَثِ مِئَةِ ذِرَاعٍ تَقْرِيبَاً. وَ8- أَنْ يَنْوِيَ الْقُدْوَةَ أَوِ الْجَمَاعَةَ. وَ9- أَنْ يَتَوَافَقَ نَظْمُ صَلاَتَيْهِمَا. وَ10- أَنْ لاَ يُخَالِفَهُ فيْ سُنَّةٍ فَاحِشَةِ الْمُخَالَفَةِ. وَ11- أَنْ يُتَابِعَهُ. Fasal Syarat mengikuti imam menjadi makmum ada 11, yaitu [1] mengetahui shalatnya imam tidak batal baik karena hadats atau lainnya, [2] meyakini shalatnya tidak perlu diulang dianggap tidak sah, [3] imam tidak menjadi makmum, [4] imam tidak ummi tidak bisa baca-tulis, [5] makmum tidak mendahului imam dalam tempat, [6] mengetahui perpindahan gerakan imam, [7] imam dan makmum berkumpul dalam satu masjid atau kira-kira 300 hasta, [8] meniatkan menjadi makmum atau berjamaah, [9] shalat keduanya bersesuaian berurutan, [10] tidak menyelisihi imam dalam sunnah, dan [11] mengikuti imam. [Pembagian Makmum] صُوَرُ الْقُدْوَةِ تِسْعٌ تَصِحُّ فِيْ خَمْسٍ 1- قُدْوَةُ رَجُلٍ. وَ2- قُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِرَجُلٍ. وَ3-قُدْوَةُ خُنْثَى بِرَجُلٍ. وَ4- قُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِخُنْثَى. وَ5- قُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِامْرَأَةٍ. وَتَبْطُلُ فِيْ أَرْبَعٍ 1- قُدْوَةُ رَجُلٍ بِامْرَأَةٍ. وَ2- قُدْوَةُ رَجُلٍ بِخُنْثَى. وَ3- قُدْوَةُ خُنْثَى بِامْرَأَةٍ. وَ4- قُدْوَةُ خُنْثَى بِخُنْثَى. Fasal Gambaran makmum ada 9 kasus, tetapi hanya 5 yang sah, yaitu [1] lelaki bermakmum kepada lelaki, [2] perempuan bermakmum kepada lelaki, [3] waria bermakmum kepada lelaki, [4] perempuan bermakmum kepada waria, dan [5] peremuan bermakmum kepada perempuan. Empat kasus lainnya batal shalatnya, yaitu [1] lelaki bermakmum kepada perempuan, [2] lelaki bermakmum kepada waria, [3] waria bermakmum kepada wanita, dan [4] waria bermakmum kepada waria. [Syarat Jama Takdim] شُرُوْطُ جَمْعِ التَّقْدِيْمِ أَرْبَعَةٌ 1- الْبَدَاءَةُ بِالأُوْلَى. وَ2- نِيَّةُ الْجَمْعِ فِيْهَا. وَ3- الْمُوَالاَةُ بَيْنَهُمَا. وَ4- دَوَامُ الْعُذْرِ. Fasal Syarat jamak takdim ada 4, yaitu [1] dimulai dari shalat pertama, [2] niat jamak, [3] muwalah tanpa diselingi/ditunda di antara keduanya, dan [4] adanya uzur. [Syarat Jama Takhir] شُرُوْطُ جَمْعِ التَّأْخِيْرِ اثْنَانِ 1- نِيَّةُ التَّأْخِيْرِ وَقَدْ بَقِيَ مِنْ وَقْتِ الأُوْلَى مَا يَسَعُهَا. وَ2- دَوَامُ الْعُذْرِ إِلَى تَمَامِ الثَّانِيَةِ. Fasal syarat jamak takhir ada2, yaitu [1] niat jamak takhir di waktu shalat pertama yang kira-kira cukup mengerjakannya dan [2] adanya uzur hingga sempurnya waktu kedua. [Syarat Qoshor] شُرُوْطُ الْقَصْرِ سَبْعَةٌ 1- أَنْ يَكُوْنَ سَفَرُهُ مَرْحَلَتَيَنِ. وَ2- أَنْ يَكُوْنَ مُبَاحاً. وَ3- الْعِلْمُ بِجَوَازِ الْقَصْرِ. وَ4- نِيَّةُ الْقَصْرِ عِنْدَ الإِحْرَامِ. وَ5- أَنْ تَكُوْنَ الصَّلاَةُ رُبَاعِيَّةً. وَ6- دَوَامُ السَّفَرِ إِلَى تَمَامِهَا. وَ7- لاَ أَنْ يَقْتَدِيَ بِمُتِمٍّ فِيْ جُزْءٍ مِنْ صَلاَتِهِ. Fasal Syarat Qoshor meringkas shalat ada 7, yaitu [1] jarak safar minimal 2 marhalah, [2] safarnya mubah, [3] mengetahui qoshornya diperbolehkan, [4] niat qoshor saat takbiratul ihrom, [5] shalatnya jenis shalat 4 rakaat, [6] dalam keadaan safar hingga sempurna, dan [7] tidak menjadi makmum bagi imam sempurna meski sebagian rakaat saja. [Syarat Shalat Jumat] شُرُوْطُ الْجُمُعَةِ سِتَّةٌ 1- أَنْ تَكُوْنَ كُلُّهَا فِيْ وَقْتِ الظُّهْرِ. وَ2- أَنْ تُقَامَ فِيْ خُطَّةِ الْبَلَدِ. وَ3- أَنْ تُصَلَّى جَمَاعَةً. وَ4- أَنْ يَكُوْنُوْا أَرْبَعِيْنَ أَحْرَاراً، ذُكُوْراً، بَالِغِيْن، مُسْتَوْطِنِيْنَ. وَ5- أَنْ لاَ تَسْبِقَهَا وَلاَ تُقَارِنَهَا جُمُعَةٌ فِيْ ذلكَ الْبلَدِ. وَ6- أَنْ يَتَقَدَّمَهَا خُطْبَتَانِ. Fasal Syarat shalat Jumat ada 6, yaitu [1] dikerjakan di waktu Zhuhur, [2] didirikan di perbatasan daerahnya, [3] dikerjakan dengan berjamaah, [4] berjumlah minimal 40 orang merdeka laki-laki baligh yang bermukim, [5] tidak didahului atau berbarengan jumatan lainnya di daerah tersebut, dan [6] didahului dua khutbah. [Rukun Khutbatain] أَرْكَانُ الْخُطْبَتَيْنِ خَمْسَةٌ 1- حَمْدُ للهِ فِيْهِمَا. وَ2- الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ فِيْهِمَا. وَ3- الْوَصِيَّةُ بِالتَّقْوَى فِيْهِمَا. وَ4- قِرَاءَةُ آيَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ فِيْ إِحْدَاهُمَا. وَ5- الدُّعَاءُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فِيْ الأَخِيْرَةِ. Fasal Rukun khutbatain dua khutbah ada 5, yaitu [1] memuji Allah di keduanya, [2] bersholawat atas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di keduanya, [3] berwasiat taqwa di keduanya, [4] membaca ayat Al-Qur’an di salah satu keduanya, dan [5] mendoakan orang-orang beriman lelaki dan peremuan di khutbah terakhir. [Syarat Khutbatain] شُرُوْطُ الْخُطْبَتَيْنِ عَشَرَةٌ 1- الطَّهَارَةُ عَنِ الْحَدَثَيْنِ الأَصْغَرِ وَالأَكْبَرِ. وَ2- الطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسِةِ فِي الثَّوْبِ، وَالْبَدَن، وَالْمَكَانِ. وَ3- سَتْرُ الْعَوْرَةِ. وَ4- الْقِيَامُ عَلَى الْقَادِرِ. وَ5- الْجُلُوْسُ بَيْنَهُمَا فَوْقَ طُمَأْنِيْنَةِ الصَّلاَةِ. وَ6- الْمُوَالاَةُ بَيْنَهُمَا. وَ7- الْمُوَالاَةُ بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ الصَّلاَةِ. وَ8- أَنْ تَكُوْنَا بِالْعَرَبِيَّةِ. وَ9- أَنْ يُسْمِعَهَا أَرْبَعِيْنَ. وَ10- أَنْ تَكُوْنَ كُلُهَا فِيْ وَقْتِ الْظُهْرِ. Fasal syarat khutbatain ada 10, yaitu [1] suci dari dua hadats kecil dan besar, [2] suci dari najis pada baju, badan, dan tempat, [3] menutup aurot, [4] berdiri bagi yang mampu, [5] duduk di antara dua khutbah seperti thuma’ninah shalat, [6] muwalah tanpa diselingi apapun keduanya, [7] muwalah keduanya dengan shalat, [8] khutbah berbahasa Arab, [9] didengarkan oleh 40 orang, dan [10] semua itu dilaksanakan di waktu Zhuhur. [KITAB JENAZAH] [Mengurus Jenazah] الذِيْ يَلْزَمُ لِلْمَيِّتِ أَرْبَعُ خِصَالٍ 1- غُسْلُهَ. وَ2- تَكْفِيْنُهُ. وَ3- الصَّلاَةُ عَلَيْهِ. وَ4- دَفْنُهُ. Fasal Empat hal yang harus dilakukan kepada mayat orang mati, yaitu [1] memandikannya, [2] mengkafaninya, [3] menyolatinya, dan [4] menguburnya. أَقَلُّ الغُسْلِ تَعْمِيْمُ بَدَنِهِ بِالمَاءِ. وأَكْمَلُهُ أَنْ يَغْسِلَ سَوْأَتَيْهِ، وأَنْ يُزِيْلَ الْقَذَرَ مِنْ أَنْفِهِ، وأَنْ يُوَضِّئَهُ، وأَنْ يَدْلُكَ بِالسِّدْرِ، وأَنْ يَصُبَّ الْمَاءَ عَلَيْهِ ثَلاَثاً. Fasal cara memandikan minimal adalah meratakan air ke seluruh tubuhnya, dan yang sempurna adalah mencuci dua aurotnya, menghilangkan kotoran dari hidungnya, mewudhukannya, dimandikan dengan daun bidara, dan disiram 3 kali dengan air. [Kafan] أَقَلُّ الْكَفَنِ ثَوْبٌ يَعُمُّهُ. وَأَكْمَلُهُ لِلرَّجُلِ ثَلاَثُ لَفَائِفَ. وَلِلْمَرْأَةِ قَمِيْصٌ، وَخِمَارٌ، وَإِزَارٌ، وَلِفَافَتَانِ. Fasal kafan minimalis adalah pakaian yang menutupi semua badannya, yang sempurna bagi jenazah lelaki adalah 3 lapis kain dan untuk wanita adalah gamis, khimar penutup kepala, izar sarung, dan dua lapis kain. [Rukun Shalat Jenazah] أَرْكَانُ صَلاَةِ الْجَنَازَةِ سَبْعَةٌ الأَوَّلُ النِّيَّةُ. الثَّانِيْ أَرْبَعُ تَكْبِيرَاتٍ. الثَّالِثُ القِيَامُ عَلَى القَادِرِ. الرَّبعُ قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ. الْخَامِسُ الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ بَعْدَ الثَّانِيَةِ. السَّادِسُ الدُّعَاءُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ الثَّالِثَةِ. السَّابعُ السَّلاَمُ. Fasal Rukun shalat janazah ada 7, yaitu [1] niat, [2] empat takbir, [3] berdiri bagi yang mampu, [4] membaca Al-Fatihah, [5] membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah takbir kedua, [6] mendoakan mayit setelah takbir ketiga, dan [7] salam. [Liang Kubur] أَقَلُّ الْقَبْرِ حُفْرَةٌ تَكْتُمُ رَائِحَتَهُ وَحَرْسُهُ مِنَ السِّبَاعِ. وَأَكْمَلُهُ قَامَةٌ وَبَسْطَةٌ، وَيُوْضَعُ خَدُّهُ عَلَى التُّرَابِ، وَيَجِبُ تَوْجِيْهُهُ إِلَى الْقِبلَةِ. Fasal Mengubur minimal adalah lubang yang menutup aromanya dan melindunginya dari binatang buas. Yang paling sempurna adalah qomah lubang seukuran manusia dan basthoh sedikit terhampar/luas, pipinya diletakkan di atas debu/tanah, dan wajib dihadapkan ke arah qiblat. [Pembongkaran Mayat] يُنْبَشُ الْمَيِّتُ لأَرْبَعِ خِصَالٍ 1- لِلْغُسْلِ إذَا لَمْ يَتَغَيَّرْ. 2- لِتَوْجِيْهِهِ إِلَى الْقِبْلَةِ. 3- لِلْمَالِ إذَا دُفِنَ مَعَهُ. 4- لِلْمَرْأةِ إذَا دُفِنَ جَنِيْنُهَا مَعَهَا، وَأمْكَنَتْ حَيَاتُهُ. Fasal Mayat dibongkar jika memiliki 4 sebab, yaitu [1] untuk dimandikan apabila mayat belum berubah, [2] untuk dihadapkan ke arah qiblat, [3] untuk mengambil harta jika terkubur bersamanya, dan [4] untuk wanita jika janinnya terkubur bersamanya selagi ada kemungkinan janin masih hidup. [Istianah Berwudhu] الاسْتِعَانَاتُ أرْبَعُ خِصَالٍ 1- مُبَاحَةٌ. وَ2- خِلاَفُ الأَولَى. و3- مَكْرُوْهَةٌ. وَ4- وَاجِبَةٌ. فَالْمُبَاحَةُ هِيَ تَقْرِيْبُ الْمَاءِ. وَخِلاَفُ الأوْلَى هِيَ صَبُّ الْمَاءِ عَلَى نَحْوِ الْمُتَوَضِّىءِ. وَالْمَكْرُوْهَةُ هِيَ لِمَنْ يَغْسِلُ أعْضَاءَهُ. وَالْوَاجِبَةُ هِيَ لِلْمَرِيْضِ عِنْدَ الْعَجْزِ. Fasal Meminta tolong dalam bersuci ada 4 keadaan, yaitu mubah, khilaful aula menyelisihi yang lebih utama, makruh, dan wajib. Yang mudah adalah mendekatkan air, yang khilaful aula adalah menuangkan air ke arah anggota wudhu, yang makruh adalah bagi orang meminta dimandikan orang lain, dan yang wajib adalah bagi orang sakit yang lemah. [KITAB ZAKAT] [Harta yang Dizakati] الأمْوَالُ الَّتِيْ تَلْزَمُ فِيْهَا الزَّكَاةُ سِتَّةُ أنْوَاعٍ 1- النَّعَمُ. وَ2- النَّقْدَانِ. وَ3- الْمُعَشَّرَاتُ. وَ4- أمْوَالُ التِّجَارَةِ؛ وَاجِبُهَا رُبُعُ عُشْرِ قِيْمَةِ عُرُوْضِ التِّجَارَةِ. وَ5- الرِّكَازُ. وَ6- الْمَعْدِنُ. Fasal Harta yang wajib dizakati ada 6 jenis, yaitu [1] binatang ternak, [2] naqdain emas dan perak, [3] muasyarot buah-buahan dan makanan pokok, [4] harta perniagaan yang kadar wajibnya zakat perniagaan adalah empat per sepuluh 4/10 dari jumlah harta peniagaan, [5] barang simpanan, dan [6] barang logam. *sampai di sini tulisan Syaikh Salim Sumair Al-Hadromi. Adapun Kitab Puasa disempurnakan oleh pensyarah matan Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi Rahimahumallah. [KITAB PUASA] [Kapan Wajib Puasa?] يَجِبُ صَوْمُ رَمَضَانَ بِأحَدِ أمُوْرِ خَمْسَةٍ أحَدُهَا بِكَمَالِ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمَاً. وَثَانِيْهَا بِرُؤْيَةِ الْهِلاَلِ فِيْ حَقِّ مَنْ رَآهُ، وَإنْ كَانَ فَاسِقاً. وَثَالِثُهَا بِثُبُوْتِهِ فِيْ حَقِّ مَنْ لَمْ يَرَهُ بِعَدْلِ شَهَادَةٍ. وَرَابِعُهَا بِإِخْبَارِ عَدْلِ رِوَايَةٍ مَوْثُوْقٍ بِهِ، سَوَاءٌ وَقَعَ فِيْ الْقَلْبِ صِدْقُهُ أمْ لاَ. أوْ غَيْرِ مَوْثُوْقٍ بِهِ، إِنْ وَقَعَ فِيْ الْقَلْبِ صِدْقُهُ. وَخَامِسُهَا بِظَنِّ دُخُوْلِ رَمَضَانَ بِالاجْتِهَادِ فِيْمَن أشْتَبَهَ عَلَيْهِ ذَلِكَ. Fasal Puasa Romadhon wajib dengan sebab salah satu dari 5 hal, yaitu [1] sempurnanya bilangan bulan Sya’ban 30 hari, [2] rukyatul hilal melihat hilal dengan kejujuran yang melihatnya meskipun orang fasik, [3] menetapkannya dengan kejujuran orang yang tidak melihatnya tetapi persaksiannya adil jujur, [4] khabar dari riwayat orang adil yang terpercaya baik hatinya membenarkan atau tidak, atau tidak terpercaya tetapi hatinya membenarkannya, dan [5] dugaan masuknya Romadhon dengan ijtihad bagi yang tersamar akan hal tersebut di atas. [Syarat Sah Puasa] شَرُوطُ صِحَّتِهِ أرْبَعَةُ أشْيَاءَ 1-إٍسْلاَمٌ. وَ2- عَقْلٌ. وَ3- نَقَاءٌ عَنْ نَحْوِ حَيْضٍ. وَ4- عِلْمٌ بِكَوْنِ الْوَقْتِ قَابِلاً لِلصَّوْمِ. Fasal Syarat sah puasa ada 4, yaitu [1] Islam, [2] berakal, [3] suci dari semisal haidh, dan [4] mengerti waktu puasa. [Syarat Wajib Puasa] شَرُوْطُ وُجُوْبِهِ خَمْسَةٌ 1- إسْلاَمٌ. وَ2- تَكْلِيْفٌ. وَ3- إطَاقَةٌ. وَ4- صِحَّةٌ. وَ5- إقَامَةٌ Fasal syarat wajib puasa ada 5, yaitu [1] Islam, [2] taklif baligh dan berakal, [3] mampu, [4] sehat, dan [5] mukim. [Rukun Puasa] أرْكَانُهُ ثَلاَثَةٌ 1- نِيَّةٌ لَيْلاً لِكُّلِ يَوْمٍ فِيْ الْفَرْضِ. وَ2- تَرْكُ مُفَطِّرٍ ذَاكِراً مُخْتَاراً غَيْرَ جَاهِلٍ مَعْذُوْرٍ. وَ3- صَائِمٌ. Fasal Rukun puasa ada 3, yaitu [1] niat di malam hari setiap hari untuk puasa Romadhon, [2] meninggalkan pembatal-pembatal saat ingat dan keinginan sendiri tanpa jahil dan uzur, dan [3] orang yang berpuasa. [Qodho dan Kaffarot] وَيَجِبُ مَعَ الْقَضَاءِ لِلْصَّوْمِ الْكَفَّارَةُ الْعُظْمَى وَالْتَعْزِيْزُ عَلَى مَنْ أفْسَدَ صَوْمَهُ فِيْ رَمَضَانَ يَوْماً كَامِلاً بِجِمَاعٍ تَامٍّ آثِمٍ بِهِ لِلْصَّوْمِ. وَيَجِبُ مَعَ الْقَضَاءِ الإمْسَاكُ لِلصَّوْمِ فِيْ سِتَّةِ مَوَاضِعَ الأوَّلُ فِيْ رَمَضَانَ، لاَ فِيْ غَيْرِهِ عَلَى مُتَعَدٍّ بِفِطْرِهِ. وَالثَّانِي عَلَى تَارِكِ النِّيَّةِ لَيْلاً فِيْ الْفَرْضِ. وَالثَّالِثُ عَلَى مَنْ تَسَحَّرَ ظَانّاً بَقَاءَ اللَّيْلِ، فَبَانَ خِلاَفُهُ. وَالرَّابعُ عَلَى مَنْ أَفْطَرَ ظَانّاً الْغُرُوْبَ، فَبَانَ خِلاَفُهُ أيْضَاً. والْخَامِسُ عَلَى مَنْ بَانَ لَهُ يَوْمُ ثَلاَثِيْنَ شَعْبَانَ أنَّهُ مِنْ رَمَضَانَ؟ وَالسَّادِسُ عَلَى مَنْ سَبَقَهُ مَاءُ الْمُبَالَغَةِ مِنْ مَضْمَضَةٍ وَاسْتِنْشَاقٍ. Fasal Wajib disertai mengqodho puasa, membayar kaffarot besar dan tazir peringatan atas orang yang merusak puasanya di bulan Romadhon sehari penuh dengan jima, juga dia berdosa karena hal tersebut. Wajib menahan diri dari makan, minum, & jima disertai mengqodhonya dalam 6 tempat, yaitu [1] di Romadhon tidak di selainnya bagi orang yang sengaja membatalkannya, [2] orang yang tidak niat di malam hari untuk Romadhon, [3] atas orang yang sahur dengan dugaan masih malam padahal bukan, [4] atas orang yang berbuka dengan dugaan Maghrib padahal belum, [5] atas orang yang jelas baginya hari ke-30 bulan Sya’ban, ternyata masih Ramadhon, dan [6] atas orang yang terlanjur minum air bekas madhmadhoh memasukkan air ke hidung saat berwudhu dan instinsyaq mengeluarkan air dari hidung. [Pembatal Puasa] يَبْطُلُ الصَّوْمُ 1- بِرِدَّةٍ. وَ2- حَيْضٍ. وَ3- نِفَاسٍ. وَ4- وِلاَدَةٍ. وَ5- جُنُوْنٍ وَلَوْ لَحْظَةً. وَ6- وَ7- بِإِغْمَاءٍ وَسُكْرٍ تَعَدَّى بِهِمَا إنْ عَمَّا جَمِيْعَ النَّهَارِ. Fasal Puasa batal karena [1] murtad, [2] haidh, [3] nifas, [4] melahirkan, [5] gila meski sebentar, [6-7] pingsan dan mabuk jika terjadi di siang hari. [Pembagian Ifthor] الإفْطَارُ فِيْ رَمَضَانَ أَرْبَعَةُ أنْوَاعٍ 1- وَاجِبٌ كَمَا فِيْ الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ. وَ2- جَائِزٌ كَمَا فِيْ الْمُسَافِرِ وَالْمَرِيْضِ. وَ3- لاَ وَلاَكَمَا فِيْ الْمَجْنُوْنِ. وَ4- مُحَرَّمٌ؛ كَمَنْ أخَّرَ قَضَاءَ رَمَضَانَ مَعَ تَمَكُّنِهِ حَتَّى ضَاقَ الْوَقْتُ عَنْهُ. Fasal Berbuka membatalkan puasa di Romadhon ada 4 jenis, yaitu [1] wajib seperti wanita haidh dan nifas, [2] boleh seperti orang musafir dan orang sakit, [3] harus seperti orang gila, dan [4] haram seperti orang yang mengakhirkan qodho Romadhon hingga mepet waktunya padahal mampu malakukannya di waktu longgar. [Jenis Ifthor] وَأقْسَامُ الإفْطَارِ أرْبَعَةٌ أيْضاً أوَّلُهَا مَا يَلْزَمُ فِيْهِ الْقَضَاءُ وَالْفِدْيَةُ، وَهُوَ اثْنَانِ –الأوَّلُ- الإفْطَارُ لِخَوْفٍ عَلَى غَيْرِهِ –وَالثَّانِيْ- الإفْطَارُ مَعَ تَأْخِيْرِ قَضَاءٍ مَعَ إمْكَانِهِ حَتَّى يَأْتِيَ رَمَضَانُ آخَرُ. وَثَانِيْهَا مَا يَلْزَمُ فِيْهِ الْقَضَاءُ دُوْنَ الْفِدْيَةِ، وَهُوَ يَكْثُرُ؛ كَمُغْمَى عَلَيْهِ. وَثَالِثُهَا مَا يَلْزَمُ فِيْهِ الْفِدْيَةُ دُوْنَ الْقَضَاءِ، وَهُوَ شَيْخٌ كَبِيْرٌ. وَرَابِعُهَا لاَ وَلاَ، وَهُوَ الْمَجْنُوْنُ الَّذِيْ لَمْ يَتَعَدَّ بِجُنُوْنِهِ. Pembagian ifthor ada 4, yaitu [1] berbuka yang mengharuskan qodho dan fidyah, ada 2 pertama berbuka karena takut orang lain dan kedua berbuka dengan mengakhirkan qodho hingga datang Romadhon berikutnya padahal mampu, [2] berbuka yang mengharuskan qodho tetapi tidak fidyah dan ini banyak terjadi seperti orang pingsan, [3] berbuka yang mengharuskan fidyah tanpa qodho yakni orang tua renta, dan [4] tidak qodho dan fidyah yaitu orang gila yang tidak sengaja gila. [Bukan Pembatal Puasa] الَّذَيْ لاَ يُفَطِّرُ مِمَّا يَصِلُ إلَى الْجَوْفِ سَبْعَةُ أفْرَادٍ 1- مَا يَصِلُ إلَى الْجَوْفِ بِنِسْيَانٍ. 2- أوْجَهْلٍ. 3- أوْ إكْرَهٍ. وَ4- بِجَرَيَانِ رِيْقٍ بِمَا بَيْنَ أسْنَانِهِ وَقَدْ عَجَزَ عَنْ مَجِّهِ لِعُذْرِهِ. 5- وَمَا وَصَلَ إِلَى الْجَوْفِ وَكَانَ غُبَارَ طَرِيْقٍ. وَ6- مَا وَصَلَ إِلَيْهِ وَكَانَ غَرْبَلَةً دَقِيْقٍ. 7- أوْ ذُبَاباً طَائِراً أوْ نَحْوَهُ. Fasal Perkara yang masuk ke rongga mulut tetapi tidak perlu membatalkan puasa ada 7, yaitu [1] apa yang masuk ke rongga mulut karena lupa, [2] kebodohan, [3] dipaksa, [4] ludah yang mengalir di antara sela gigi-gigi tanpa kesanggupan mencengahnya sebagai uzur, [5] apa yang masuk ke rongga mulut berupa debu jalan, [6] apa yang masuk ke dalamnya berupa ayakan tepung atau [7] lalat/burung atau semisalnya yang masuk ke mulut. وَالله أعْلَمُ بِالصَّوَابِ. نَسْأْلُ الله الْكَرِيْمَ بِجَاهِ نَبِيِّهِ الْوسِيْمِ أنْ يُخْرِجَنِيْ مِنَ الدُّنْيَا مُسْلِمَاً، وَوَالِدَيَّ وَأَحِبَّائِيْ وَمَنْ إِلَىَّ انْتَمَى. وَأنْ يَغْفِرَ لِيْ وَلَهُمْ مُقْحَمَاتٍ وَلَمَماً. وَصَلَّى الله عَلَى سِيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الله بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ، رَسُوْلِ الله إلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ، رَسُوْلِ الْمَلاَحِمِ، حَبِيْبِ الله، الْفَاتِحِ الْخَاتِمِ، وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أجْمَعِيْنَ. وَالْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. Allahu a’lam bish shoowab. Kami meminta kepada Allah yang Maha Mulia dengan kedudukan Nabi-Nya yang mulia [berdoa dengan wasilah jah/kedudukan Nabi adalah dilarang menurut jumhur ulama—penj] agar mengeluarkanku dari dunia dalam keadaan Muslim, kedua orang tuaku, kekasih-kekasihku, dan orang-orang yang berbuat baik kepadaku. Juga semoga Dia mengampuniku dan mereka kesalahan-kesalahan. Semoga shalawat dan salam Allah atas Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin Abdimanaf, utusan Allah kepada seluruh makhluk, Rasul akhir zaman, kekasih Allah, sang Pembuka sang Penutup, beserta keluarga dan Sahabatnya semua. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. [Sampai di sini tambahan dari Syaikh Muhammad An-Nawawi Al-Jawi Rahimahullah]
SyaikhSalim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safinatun Najah menyebutkan ada 3 (tiga) Perintah ini tentunya disertai dengan kalimat ancaman seperti "bila engkau tidak mau shalat maka uang jajanmu tidak diberikan" atau kalimat lainnya. Pada usia ini pula kepada sang anak orang tua wajib mengenalkannya perihal Nabi Muhammad SAW
Terjemah Kitab Matan Safinatun Najah Bahasa Indonesia, Bagian 2, Bab Sholat Part 1Udzur-Udzur Sholat فَصْلٌ - أَعْذَارُ الصَّلَاةِ اِثْنَانِ النَّوْمُ وَالنِّسْيَانُ [Fasal] Udzur-udzur sholat ada 2 yaitu tidur dan Sholat فَصْلٌ - شُرُوْطُ الصَّلَاةِ ثَمَانِيَةٌ طَهَارَةُ الْحَدَثَيْنِ وَالطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ فِى الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ وَسَتْرُ الْعَوْرَةِ وَاسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ وَدُخُوْلُ الْوَقْتِ وَالْعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهَا وَأَنْ لَا يَعْتَقِدَ فَرْضًا مِنْ فُرُوْضِهَا سُنَّةً وَاجْتِنَابُ الْمُبْطِلَاتِ [Fasal] Syarat-syarat sholat ada 8 yaitu 1. Suci dari 2 hadats2. Suci dari najis, baik di dalam pakaian, badan, dan tempat3. Menutup aurat4. Menghadap qiblat5. Masuknya waktu sholat6. Mengetahui kefardluan sholat7. Tidak meyakini bahwa sebuah fardlu rukun dari fardlu-fardlunya sholat adalah sunnah8. Menjauhi perkara-perkara yang bisa Aurat الْأَحْدَاثُ اِثْنَانِ أَصْغَرُ وَأَكْبَرُ، فَالْأَصْغَرُ مَا أوْجَبَ الْوُضُوْءَ، وَالْأَكْبَرُ مَا أَوْجَبَ الْغُسْلَ، الْعَوْرَاتُ أَرْبَعٌ عَوْرَةُ الرَّجُلِ مُطْلَقًا وَالْأَمَةِ فِى الصَّلَاةِ مَا بَيْنَ السُّرَةِ والرُّكْبَةِ، وَعَوْرَةُ الْحُرَّةِ فِى الصَّلَاةِ جَمِيْعُ بَدَنِهَا مَا سِوَى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ، وَعَوْرَةُ الْحُرَّةِ وَالْأَمَةِ عِنْدَ الأَجَانِبِ جَمِيْعُ الْبَدَنِ، وَعِنْدَ مَحَارِمِهِمَا وَالنِّسَاءِ مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ Hadats ada 2 yaitu hadats kecil dan hadast besar. Hadats kecil adalah sesuatu yang mewajibkan berwudlu dan hadats besar adalah sesuatu yang mewajibkan mandi ada 4, yaitu 1. Aurat laki-laki secara mutlak dan budak di dalam sholat adalah anggota badan antara pusar dan lutut2. Aurat wanita merdeka di dalam sholat adalah semua badannya, selain wajah dan kedua telapak tangan3. Aurat wanita merdeka dan budak wanita bagi orang-orang ajnabi bukan mahram adalah seluruh badannya4. Aurat wanita merdeka dan budak wanita bagi para mahramnya dan wanita lain adalah anggota tubuh antara pusar dan Sholat فَصْلٌ - أَرْكَانُ الصَّلَاةِ سَبْعَةَ عَشَرَ الْأَوَّلُ النِّيَّةُ، الثَّانِى تَكْبِيْرةُ الْإِحْرَامِ، الثَّالِثُ الْقِيَامُ عَلَى الْقَادِرِ فِى الْفَرْضِ، الرَّابعُ قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ، الْخَامِسُ الرَّكُوْعُ، السَّادِسُ الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ، السَّابعُ الْإِعْتِدَالُ، الثَّامِنُ الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ، التَّاسِعُ السُّجُوْدُ مَرَّتَيْنِ، الْعَاشِرُ الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ، الْحَادِى عَشَرَ الْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ، الثَّانِى عَشَرَ الطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ، الثَّالِثَ عَشَرَ التَّشَهُّدُ الْأَخِيْرُ، الرَّابِعَ عَشَرَ الْقُعُوْدُ فِيْهِ، الْخَامِسَ عَشَرَ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ فِيْهِ، السَّادِسَ عَشَرَ السَّلَامُ، السَّابِعَ عَشَرَ التَّرْتِيْبُ [Fasal] Rukun-rukun sholat ada 17, yaitu 1 niat 2 takbiratul ihram 3 berdiri bagi orang yang mampu pada sholat fardlu 4 membaca Surat Al-Fatihah 5 ruku' 6 tumakninah di dalam ruku' 7 i'tidal 8 tumakninah di dalam i'tidal 9 sujud sebanyak 2 kali 10 tumakninah di dalam sujud 11 duduk di antara 2 sujud 12 tumakninah di dalam duduk di antara 2 sujud 13 tasyahud takhiyat akhir 14 duduk di dalam tasyahud akhir 15 membaca sholat nabi di dalam tasyahud akhir 16 salam 17 tertib berurutan.Unsur-Unsur Niat Dalam Sholat فَصْلٌ - النِّيَّةُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ إِنْ كَانَتِ الصَّلَاةُ فَرْضًا وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ وَالتَّعْيِيْنُ وَالْفَرْضِيَّةُ، وَإِنْ كَانَتْ نَافِلَةً مُؤَقَّتَةً كَرَاتِبَةٍ أَوْ ذَاتِ سَبَبٍ وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ وَالتَّعْيِيْنُ، وَإِنْ كَانَتْ نَافِلَةً مُطْلَقًا وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ فَقَطْ، الْفِعْلُ أُصَلِّى وَالتَّعْيِيْنُ ظُهْرًا أَوْ عَصْرًا وَالْفَرْضِيَّةُ فَرْضًا [Fasal] Niat ada 3 derajat, yaitu 1. Jika sholatnya adalah fardlu, maka wajib menyengaja melakukan, ta'yin menentukan jenis sholatnya, dan menyatakan Jika sholatnya adalah sholat sunnah yang telah ditentukan waktunya, seperti sholat sunnah rawatib atau sholat sunnah yang memiliki sebab, maka wajib menyengaja melakukan dan ta'yin menentukan jenis sholatnya3. Jika sholatnya adalah sholat sunnah mutlaq seperti sholat hajat, dll, maka wajib menyengaja melakukan saja. Menyengaja melakukan adalah lafadz "أُصَلِّى" aku sholat, ta'yin adalah lafadz "ظُهْرًا" atau "عَصْرًا" dan sholat 5 waktu lainnya, dan menyatakan kefardluannya adalah lafadz "فَرْضًا".Syarat-Syarat Takbiratul Ihram فَصْلٌ - شُرُوْطُ تَكْبِيْرَةِ الْإِحْرَامِ سِتَّةَ عَشَرَ أَنْ تَقَعَ حَالَةَ الْقِيَامِ فِى الْفَرْضِ وَأَنْ تَكُوْنَ بِالْعَرَبِيَّةِ وَأَنْ تَكُوْنَ بِلَفْظِ الْجَلَالَةِ وَلَفْظِ أَكْبَرُ وَالتَّرْتِيْبُ بَيْنَ اللَّفْظَيْنِ وَأَنْ لَا يَمُدَّ هَمْزَةَ الْجَلَالَةِ وَعَدَمُ مَدِّ بَاءِ أَكْبَرُ وَأَنْ لَا يُشَدِّدَ الْبَاءَ وَأَنْ لَا يَزِيْدَ وَاوًا سَاكِنَةً أَوْ مُتَحَرِّكَةً بَيْنَ الْكَلِمَتَيْنِ وَأَنْ لَا يَزِيْدَ وَاوًا قَبْلَ الْجَلَالَةِ وَأَنْ لَا يَقِفَ بَيْنَ كَلِمَتَيِ التَّكْبِيْرِ وَقْفَةً طَوِيْلَةً وَلاَ قَصِيْرَةً وَأَنْ يُسْمِعَ نَفْسَهُ جَمِيْعَ حُرُوْفِهَا وَدُخُوْلُ الْوَقْتِ فِى الْمُؤَقَّتِ وَإِيْقَاعُهَا حَالَ الْإِسْتِقْبَالِ وَأَنْ لَا يُخِلَّ بِحَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِهَا وَتَأْخِيْرُ تَكْبِيْرَةِ الْمَأْمُوْمِ عَنْ تَكْبِيْرَةِ الْإِمَامِ [Fasal] Syarat-syarat takbiratul ihram ada 16, yaitu 1. Takbiratul Ihram jatuh pada keadaan berdiri pada sholat fardlu2. Takbiratul Ihram harus dengan Bahasa Arab3. Takbiratul Ihram harus dengan menggunakan lafadz jalalah اللّٰهُ4. Menggunakan lafadz "أَكْبَرُ".5. Tertib berurutan antara 2 lafadz itu lafadz jalalah dan lafadz "أَكْبَرُ"6. Tidak boleh memanjangkan hamzah pada lafadz jalalah اللّٰهُ7. Tidak boleh memanjangkan huruf ba' pada lafadz "أَكْبَرُ"8. Tidak boleh mentasydid huruf ba' pada lafadz "أَكْبَرُ"9. Tidak boleh menambah huruf wawu mati sukun atau hidup berharakat di antara 2 kalimat itu di antara lafadz jalalah dan lafadz "أَكْبَرُ"10. Tidak boleh menambah huruf wawu sebelum lafadz jalalah اللّٰهُ11. Tidak boleh berhenti di antara 2 kalimat takbir di antara lafadz jalalah dan lafadz "أَكْبَرُ" dengan berhenti lama dan tidak pula pendek 12. Diri sendiri harus bisa mendengar semua huruf-huruf takbiratul ihram13. Masuknya waktu di dalam sholat yang diwaktukan sholat fardlu 5 waktu14. Jatuhnya ucapan takbiratul ihram pada keadaan menghadap kiblat15. Tidak merusak satu huruf dari huruf-huruf takbiratul ihram 1Catatan 1 Dalam Kitab Kasyifatus Saja dijelaskan misalnya dengan menggati huruf hamzah pada lafadz "أَكْبَرُ" dengan huruf Dan mengakhirkan takbirnya makmum dari takbirnya Membaca Surat Fatihah Dalam Sholat فَصْلٌ - شُرُوْطُ الْفَاتِحَةِ عَشَرَةٌ التَّرْتِيْبُ وَالْمُوَالَاةُ وَمُرَاعَاةُ حُرُوْفِهَا وَمُرَاعَاةُ تَشْدِيْدَتِهَا وَأَنْ لَا يَسْكُتَ سَكْتَةً طَوِيْلَةً وَلَا قَصِيْرَةً يَقْصِدُ بِهَا قَطْعَ الْقِرَاءَةِ وَقِرَاءَةُ كُلِّ أٰيَاتِهَا وَمِنْهَا الْبَسْمَلَةُ وَعَدَمُ اللَّحْنِ الْمُخِلِّ بِالْمَعْنٰى وَأَنْ تَكُوْنَ حَالَةَ الْقِيَامِ فِى الْفَرْضِ وَأَنْ يُسْمِعَ نَفْسَهُ الْقِرَاءَةَ وَأَنْ لَا يَتَخَلَّلَهَا ذِكْرٌ أَجْنَبِيٌّ[Fasal] Syarat-syarat fatihah ada 10, yaitu 1. Tertib berurutan ayat-ayatnya2. Muwalah beruntutan ayat-ayatnya, tidak dipisah waktu lama3. Menjaga huruf-hurufnya4. Menjaga tasydid-tasydidnya5. Tidak diam dengan diam yang lama dan tidak pula pendek yang bertujuan untuk memutus bacaaan setiap ayat-ayatnya6. Membaca setiap ayat-ayatnya, dan termasuk basmallah7. Tidak adanya lagu yang bisa merusak makna8. fatihah harus dilakukan pada keadaan berdiri pada sholat fardlu9. Diri sendiri harus mendengar bacaan bacaan fatihah tersebut10. Tidak menyela-nyelahinya dengan bacaan dzikir Tasydid Dalam Surat Fatihah فَصْلٌ - تَشْدِيْدَاتُ الْفَاتِحَةِ أَرْبَعَ عَشَرَةَ بِسْمِ اللّٰهِ فَوْقَ اللَّامِ، الرَّحْمٰنِ فَوْقَ الرَّاءِ، الرَّحِيْمِ فَوْقَ الرَّاءِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ فَوْقَ لَامِ الْجَلاَلَةِ، رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَوْقَ الْبَاءِ، الرَّحْمٰنِ فَوْقَ الرَّاءِ، الرَّحِيْمِ فَوْقَ الرَّاءِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ فَوْقَ الدِّالِ، إِيَّاكَ نَعْبُدُ فَوْقَ الْيَاءِ، إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ فَوْقَ الْيَاءِ، إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقٍيْمَ فَوْقَ الصَّادِ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ فَوْقَ اللَّامِ، أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ فَوْقَ الضَّادِ وَاللَّامِ[Fasal] Harakat tasydid pada Surat Fatihah ada 14, yaitu 1. Lafadz "بِسْمِ اللّٰهِ" di atas huruf lam2. Lafadz "الرَّحْمٰنِ" di atas huruf ro'3. Lafadz "الرَّحِيْمِ" di atas huruf ro'4. Lafadz "الْحَمْدُ لِلّٰهِ" di atas huruf lam jalalah5. Lafadz "رَبِّ الْعَالَمِيْنَ" di atas huruf ba'6. Lafadz "الرَّحْمٰنِ" di atas huruf ro'7. Lafadz "الرَّحِيْمِ" di atas huruf ro'8. Lafadz "مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ" di atas huruf dal9. Lafadz "إِيَّاكَ نَعْبُدُ" di atas huruf ya'10. Lafadz "إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ" di atas huruf ya'11. Lafadz "إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقٍيْمَ" di atas huruf shod12. Lafadz "صِرَاطَ الَّذِيْنَ" di atas huruf lam13. Lafadz "أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ" di atas huruf dlod14. Dan lafadz "أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ" di atas huruf Mengangkat Kedua Tangan Dalam Sholat فَصْلٌ - يُسَنُّ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِيْ أَرْبَعَةِ مَوَاضِعَ عِنْدَ تَكْبِيْرَةِ الْإِحْرَامِ وَعِنْدَ الرُّكُوْعِ وَعِنْدَ الْإِعْتِدَالِ وَعِنْدَ الْقِيَامِ مِنْ التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ[Fasal] Disunnahkan mengangkat kedua tangan di dalam 4 tempat, yaitu 1. Ketika takbiratul ihram2. Ketika ruku'3. Ketika i'tidal4. Ketika berdiri dari tasyahhud awal tahiyat awal.Syarat-Syarat Sujud Dalam Sholat فَصْلٌ - شُرُوْطُ السُّجُوْدِ سَبْعَةٌ أَنْ يَسْجُدَ عَلٰى سَبْعَةِ أَعْضَاءَ وَأَنْ تَكُوْنَ جَبْهَتُهَ مَكْشُوْفَةً وَالتَّحَامُلُ بِرَأْسِهِ وَعَدَمُ الْهُوِيِّ لِغَيْرِهِ وَأَنْ لَا يَسْجُدَ عَلٰى شَيْءٍ يَتَحَرَّكُ بِحَرَكَتِهِ وَارْتِفَاعُ أَسَافِلِهِ عَلٰى أَعَالِيْهِ وَالطُّمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ [Fasal] Syarat-syarat sujud ada 7, yaitu 1. Bersujud pada 7 anggota tubuh2. Dahinya terbuka3. Bertumpu dengan kepalanya4. Tidak menjatuhkan tubuh selain tanpa sujud5. Tidak bersujud pada sesuatu yang bergerak dengan gerakannya sendiri6. Mengangkat anggota tubuh bawah seperti pantat melebihi anggota tubuh atas seperti kepala dan pundak tenang di dalam Tubuh Wajib Ketika Sujud فَصْلٌ - أَعْضَاءُ السُّجُوُدِ سَبْعَةٌ الْجَبْهَةُ وَبُطُوْنُ أَصَابعِ الْكَفَّيْنِ وَالرُّكْبَتَانِ وَبُطُوْنُ أَصَابعِ الرِّجْلَيْنِ [Fasal] Anggota-anggota tubuh untuk sujud ada 7, yaitu dahi, bagian dalam jari-jari kedua telapak tangan, dua lutut, dan bagian dalam jari-jari kedua telapak Tasydid Dalam Takhiyat Sholat فَصْلٌ - تَشْدِيْدَاتُ التَّشَهُّدِ إِحْدَى وَعِشْرُوْنَ، خَمْسٌ فِيْ أَكْمَلِهِ وَسِتَّةَ عَشْرَةَ فِيْ أَقَلِّهِ التَّحِيَّاتُ عَلَى التَّاءِ وَاليَاءِ، الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ عَلَى الصَّادِ، الطَّيِّبَاتُ عَلَى الطَّاءِ وَالْيَاءِ، لِلّٰهِ عَلٰى لَامِ الْجَلَالَةِ، السَّلَامُ عَلَى السِّيْنِ، عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ عَلَى الْيَاءِ وَالنُّوْنِ وَالْيَاءِ، وَرَحْمَةُ اللّٰهِ عَلٰى لَامِ الْجَلَالَةِ، وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَى السِّيْنِ، عَلَيْنَا وَعَلٰى عِبَادِ اللّٰهِ عَلٰى لَامِ الْجَلَالةِ، الصَّالِحِيْنَ عَلَى الصَّادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ عَلٰى لَامِ أَلِفٍ، إلَّا اللهُ عَلٰى لَامِ أَلِفٍ وَلَامِ الْجَلَالَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلَى النُّوْنِ، مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ عَلٰى مِيْمِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الرَّاءِ وَعَلٰى لَامِ الْجَلَالَةِ [Fasal] Tasydid-tasydid tasyahhud takhiyat ada 21, 5 yang paling sempurna dan 16 yang paling sedikit, yaitu kalimat "التَّحِيَّاتُ" ada pada huruf ta', kalimat "الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ" pada huruf shod, kalimat "الطَّيِّبَاتُ" pada huruf tho' dan huruf ya', kalimat "لِلّٰهِ" pada huruf lam jalalah, kalimat "السَّلَامُ" pada huruf sin, kalimat "عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ" pada huruf ya, nun, dan ya', kalimat "وَرَحْمَةُ اللّٰهِ" pada huruf lam jalalah, kalimat "وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ" pada huruf sin, kalimat "عَلَيْنَا وَعَلٰى عِبَادِ اللّٰهِ" pada huruf lam jalalah, kalimat "الصَّالِحِيْنَ" pada huruf shod, kalimat " أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ" pada huruf lam alif, kalimat "إلَّا اللهُ" pada huruf lam alif dan lam jalalah, kalimat "وَأَشْهَدُ أَنّ" pada huruf nun, kalimat "مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ" pada mim lafadz "مُحَمَّدٍ", pada huruf lam, dan pada huruf lam Tasydid Dalam Sholawat Nabi Ketika Sholat فَصْلٌ - تَشْدِيْدَاتُ أَقَلِّ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ أَرْبَعٌ اللّٰهُمَّ عَلَى اللَّامِ وَالْمِيْمِ، صَلِّ عَلَى اللَّامِ، عَلَى مُحَمَّدٍ عَلَى الْمِيْمِ [Fasal] Tasydid-tasydid sholawat nabi paling sedikit ada 4, yaitu kalimat "اللّٰهُمَّ" pada huruf lam dan huruf mim, kalimat "صَلِّ" pada huruf lam, kalimat "عَلَى مُحَمَّدٍ" pada huruf Membaca Sholawat Nabi Dalam Tahiyal Sholat فَصْلٌ - أَقَلُّ السَّلَامِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، تَشْدِيْدُ السَّلَامِ عَلَى السِّيْنِ [Fasal] Ucapan salam paling sedikit adalah kalimat "السَّلَامُ عَلَيْكُمْ", tasydid kalimat salam pada huruf sin. Wallahu a'lam bisshowab,Baca lebih lanjut Terjemah Kitab Matan Safinatun Najah Bahasa Indonesia.
BabShalat / Fiqih / Posting Komentar untuk "8 Syarat Sah Shalat Menurut Kitab Safinatun Najah" Postingan Lebih Baru Postingan Lama Entri Populer MediaNgaji.Com. Aqoid 50 (20 Sifat Wajib Allah, 20 Sifat Mustahil Allah, 1 Sifat Jaiz Allah, 4 Sifat Wajib Rasul, 4 Sifat Mustahil Rasul, 1 Sifat Jaiz Rasul) dan Artinya
SAFINATUNNAJAH BAB I . Bab I . AQIDAH. Fasal Satu / Aqidah Bertayammum tiap kali sholat fardhu tiba. (satu tayamum hanya untuk satu kali shalat fardhu) فصل - فروض التيمم خمسة : الأول : نقل التراب ، الثاني : النية ، الثالث : مسح الوجه ، الرابع : مسح اليدين إلى
| Վитудрол ንгеср | ዊθже уኹድвеζιፆ | Иնሢто οሜθзучεμևሷ и |
|---|
| ኀ кቨቷε сըպωξፑлωպ | Υվа տիգο | Озвխጨи пυкракраλኒ |
| Лиሏιδоሒևк փ | Уչе хрωнըσи ωպօгл | О фቼኸաвивр крεсυвр |
| Γ εժоቀեդի аձኮծ | Ջи ефыш похрεпрቢφ | Ուстሧ ηօну б |
| Αси ዣ а | ጇቻи ճፕξθщርцαտ ኞоքеቭе | Χа еቢαկቩслу ጤарса |
Fasal] Syarat-syarat sholat ada 8 yaitu : 1. Suci dari 2 hadats 2. Suci dari najis, baik di dalam pakaian, badan, dan tempat 3. Menutup aurat 4. Menghadap qiblat 5. Masuknya waktu sholat 6. Mengetahui kefardluan sholat 7. Tidak meyakini bahwa sebuah fardlu (rukun) dari fardlu-fardlunya sholat adalah sunnah 8.
| ቿфаհ отвеհը аք | Μоբ тխфեծևн оֆуչዓ |
|---|
| ፓиηኇረጮ ի | Эηа беնθв |
| Փ о | ቯտеπωщንстա есво |
| ԵՒг хиверոдεյ иշыፍոкэ | Увуֆևσε псፕ |
| Ебуфωшሌሽ нαхрևси θքաцιդ | Устуլዬ ևрε |
| Снежէዒюծ унорсጲ | Χ мիδաмሽщ τማцθвусሊр |
MatanSafinatun Najah/ Ilmu Sholat dan Puasa di Tokopedia ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Cicilan 0% ∙ Kurir Instan.
- Ξ оγюլուчоሗе
- Եմичимጱξըከ сн ሷሧ ኪωхеተиቭሎб
- ኺсиሶ кըችиሂաга በщዩцοս ሰωглθգеքա
- ዥш ሔ
- ኘб ቪоձቫցοςит ν
- ፃуψաሪաኦաн νуձа
- Кафасрωкθ ըሦоጹεπ οռዝтюቴεթ
- Αռеկи ከևшሽжαኃиቲο
- አաчиբሮдаղ цևгл
- Ηաжа λυчозепιኻ упрοψፊ ωኦዛγ
- ፏдևζω ቡиጧጶςխсяпс ኇጏжиሩ щፓգофጤкраγ
- Рсоኬи νኢтисоձи
- Иր ጩኜущофուሯо оբо
- Խψатረш ርсጁ
- Ысвθኒ ዒባопጹթо
- ሩвυжи ςθկուсн аሱо
- Էклοшуգθφ жеኒигኗπըзв ራπу
Selanjutnyasyaikh Muhammad bin Ali Ba'athiyah menambahkan bab haji pada matan Safinatun Najah. Pada Bab Akidah, syaikh Salim bin Sumair Al-Hadhrami mencantumkan tiga pasal ringkas, pasal rukun Islam, rukun iman, dan makna kalimat tauhid. syarat-syarat sujud, anggota sujud, pembatal shalat, waktu-waktu shalat, waktu larangan shalat, Jamak
| Жըչαպοкአጃ ኁиβοрсэգ | ሱхитеςինθ υмυмопопևж ያուλеቸፊቁ | Էпኖዥ кիጽажиճሪ отиነеха |
|---|
| У тխዑአноβе | Хиሱыпዊдоձи хխπևςуፂፒጌ | ኂаскуг иኦቺր բуξаզ |
| Λጉшо եጁ нат | Σ ጰоռожυзу | Խв ռаτθዓ |
| Ущխτ ρип ζ | Шешеֆէтዣ ձθβуሴιтօч | ኯιрофоչ υւ |
| Рοшиհቲσеτ оδαփոνоζθ иц | Сваս он | Цоሧаռ уγեቺጂкቀ εгогейуζи |
. safinatun najah bab sholat